BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Makalah
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan Indonesia
dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak
awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia
dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah Barat Nusantara dan
sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian,
terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan
menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan
cengkeh yang berasal dari Maluku dipasarkan di Jawa dan Sumatera, untuk
kemudian dijual kepada para pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di
Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan 7 M sering disinggahi pedagang asing
seperti Lamuri (Aceh), Barus, dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik
di Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang pula para pedagang yang berasal
dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakan barang dagangan,
tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama Islam. Dengan demikian, agama
Islam telah ada di Indonesia ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang Arab
tersebut. Meskipun belum tersebar secara intensif ke seluruh wilayah Indonesia.
I.2. Rumusan Masalah
a. Sejak
kapan Islam masuk ke Indonesia?
b. Bagaimankah corak dan perkembangan Islam di
Indonesia?
c. Siapakah
tokoh-tokoh Perkembangan Islam Di Indonesia
I.3. Tujuan
Penulisan
a. Untuk mengetahui awal masuknya Islam
ke Indonesia.
b. Untuk mengetahui cara masuknya Islam di Indonesia.
c. Untuk mengetahui
kerajaan Islam di Indonesia
d. Tokoh-Tokoh Dalam Perkembangan Islam di Indonesia.
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
1.2.RUMUSAN MASALAH
1.3. TUJUAN PENULISAN
BAB II
PERKEMBANGAN ISLAM DI
NUSANTARA
A. AWAL MASUKNYA ISLAM DI NUSANTARA
B. CARA MASUKNYA ISLAM DI NUSANTARA
1. Perdagangan
2. Pendidikan
3. Kurtural
4. Kuasa Politik
C. KERAJAAN ISLAM DI NUSANTARA
1. Kerajaan Perlak
2. Kerajaan Samudra Pasai
3. Kerajaan Aceh
4. Kerajaan Demak Dan Pajang
5. Kerajaan Mataram
6. Kerajaan Banten
7. Kerajaan Cirebon
8. Kerajaan Gowa-Tallo
9. Kerajaan Ternate Dan Tidore
D. Tokoh-Tokoh Dalam Perkembangan
Islam Di Indonesia
1. Hamzah
Fansuri
2. Syaikh
Muhammad Yusuf Al-Makasari
3. Syaikh
Abdussamad Al-Palimbani
4. Syaikh
Muhammad bin Umar n-Nawawi Al-Bantani
5. Wali Songo
BAB III
KESIMPULAN
BAB II
PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA
A. Awal Masuknya Islam Di
Nusantara
Ketika Islam datang
di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu
dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah
kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan
Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di
Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke
wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan
membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta),
menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam
Islam sangat mudah hanya dengan membacadua kalimah syahadat dan tidak ada
paksaan.
Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “ masuknya Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi. Menurut sumber lain menyebutkan bahwa Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa Khulafaur Rasyidin (masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), disebarkan langsung dari Madinah.
B. Cara Masuknya Islam Di Nusantara
Islam masuk ke
Nusantara, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan
tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan
para ulama. Karena memang para ulama berpegang teguh pada prinsip yaitu ”Tidak
ada paksaan dalam agama”(Q.S. al-Baqarah ayat 256).Adapun cara masuknya Islam
di Nusantara melalui beberapa cara antara lain.
1. Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama
menjalin kontak dagang dengan orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan
Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka
makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia).
Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani
yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama
Islam.
2. Kultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang. Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya. Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia khususnya jawa sampai sekarang. Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.
3. Pendidikan
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia. Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.
4. Kekuasaan politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.
C. Kerjaan Islam Di Nusantara
1.
Kerajaan
Perlak
Perlak adalah
kerajaan Islam tertua di Indonesia. Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa
pemerintahan cukup panjang. Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir
pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai. Sejak berdiri
sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang
memerintah. Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz
Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M). Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada
tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak. Setelah
pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.Kerajaan ini
mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik
Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M).Pada masa
pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang
pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Sultan mengawinkan dua
putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari
Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura
sekarang).Perkawinan ini dengan parameswara Iskandar Syah yang kemudian
bergelar Sultan Muhammad Syah.
2.
Kerajaan
Samudera Pasai
Kerajaan ini didirikan oleh
Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13.
Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Semawe
sekarang (pantai timur Aceh).Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti
memerintah di Samudra Pasai. Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai
adalah seperti berikut:
(1) Sultan Malik Al-saleh
berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan
kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan memperkuat angkatan perang.
Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di Selat Malaka.
(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik
al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan
Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.
(3) Sultan Malik al Tahir II
(1326 – 1348 M). Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran
Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya.
Akibatnya,
Samudra Pasai berkembang sebagai pusat penyebaran Islam. Pada masa
pemerintahannya, Samudra Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para
pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar Samudra Pasai. Namun,
setelah muncul Kerajaan Malaka, Samudra Pasai mulai memudar. Pada tahun 1522
Samudra Pasai diduduki oleh Portugis. Keberadaan Samudra Pasai sebagai kerajaan
maritim digantikan oleh Kerajaan Aceh yang muncul kemudian.Catatan lain
mengenai kerajaan ini dapat diketahui dari tulisan Ibnu Battuta, seorang
pengelana dari Maroko. Menurut Battuta, pada tahun 1345, Samudera Pasai
merupakan kerajaan dagang yang makmur. Banyak pedagang dari Jawa, Cina, dan
India yang datang ke sana. Hal ini mengingat letak Samudera Pasai yang
strategis di Selat Malaka. Mata uangnya uang emas yang disebur deureuham
(dirham).Di bidang agama, Samudera Pasai menjadi pusat studi Islam. Kerajaan
ini menyiarkan Islam sampai ke Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, bahkan ke Thailand.
Dari Kerajaan Samudra Pasai inilah kader-kader Islam dipersiapkan untuk
mengembangkan Islam ke berbagai daerah. Salah satunya ialah Fatahillah. Ia
adalah putra Pasai yang kemudian menjadi panglima di Demak kemudian menjadi
penguasa di Banten.
3. Kerajaan Aceh
Kerajaan Islam
berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh. Kerajaan yang didirikan oleh Sultan
Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena
mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka.Para
pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh.Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh
ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas
dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku;
dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku
atau teungku.
Sebagai sebuah
kerajaan, Aceh mengalami masa maju dan mundur. Aceh mengalami kemajuan pesat
pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636). Pada masa
pemerintahannya, Aceh mencapai zaman keemasan. Aceh bahkan dapat menguasai
Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan,
dan Nias. Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata
pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam.Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak
ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh. Aceh mengalami kemunduran di
bawah pimpinan Sultan Iskandar Thani (1636- 1641). Dia kemudian digantikan oleh
permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675
4. Kerajaan Demak dan Kerajaan
Pajang
Demak adalah
kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan yang didirikan oleh Raden Patah
ini pada awalnya adalah sebuah wilayah dengan nama Glagah atau Bintoro yang
berada di bawah kekuasaan Majapahit. Majapahit mengalami kemunduran pada akhir
abad ke-15. Kemunduran ini memberi peluang bagi Demak untuk berkembang menjadi kota
besar dan pusat perdagangan. Dengan bantuan para ulama Walisongo, Demak
berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan
wilayah timur Nusantara.Sebagai kerajaan, Demak diperintah silih berganti oleh
raja-raja. Demak didirikan oleh Raden Patah (1500-1518) yang bergelar Sultan
Alam Akhbar al Fatah. Raden Patah sebenarnya adalah Pangeran Jimbun, putra raja
Majapahit. Pada masa pemerintahannya, Demak berkembang pesat. Daerah
kekuasaannya meliputi daerah Demak sendiri, Semarang, Tegal, Jepara dan
sekitarnya, dan cukup berpengaruh di Palembang dan Jambi di Sumatera, serta
beberapa wilayah di Kalimantan. Karena memiliki bandar-bandar penting seperti
Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik, Raden Patah memperkuat armada lautnya sehingga
Demak berkembang menjadi negara
maritim yang kuat. Dengan kekuatannya itu, Demak mencoba menyerang Portugis
yang pada saat itu menguasai Malaka. Demak membantu Malaka karena kepentingan
Demak turut terganggu dengan hadirnya Portugis di Malaka. Namun, serangan itu
gagal.Raden Patah kemudian digantikan oleh Adipati Unus (1518-1521). Walau ia
tidak memerintah lama, tetapi namanya cukup terkenal sebagai panglima perang
yang berani.Ia berusaha membendung pengaruh Portugis jangan sampai meluas ke
Jawa. Karena mati muda, Adipati Unus kemudian digantikan oleh adiknya, Sultan
Trenggono (1521-1546). Di bawah pemerintahannya, Demak mengalami masa kejayaan.
Trenggono berhasil membawa Demak memperluas wilayah kekuasaannya.
5. Kerajaan Mataram
Sutawijaya yang
mendapat limpahan Kerajaan Pajang dari Sutan Benowo kemudian memindahkan pusat
pemerintahan ke daerah kekuasaan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram.
Sutawijaya kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati
Ing Alaga Sayidin Panatagama.Pemerintahan Panembahan Senopati (1586-1601) tidak
berjalan dengan mulus karena diwarnai oleh pemberontakan-pemberontakan.
Pada masa
pemerintahannya, Mataram mencapai masa keemasan. Pusat pemerintahan dipindahkan
ke Plered. Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian
Jawa Barat. Sultan Agung bercita-cita
mempersatukan Jawa. Karena merasa sebagai penerus Kerajaan Demak, Sultan Agung
menganggap Banten adalah bagian dari Kerajaan Mataram. Namun, Banten tidak mau
tunduk kepada Mataram. Sultan Agung kemudian berniat untuk merebut
Banten.Namun, niatnya itu terhambat karena ada VOC yang menguasai Sunda Kelapa.
VOC juga tidak menyukai Mataram. Akibatnya, Sultan Agung harus berhadapan dulu
dengan VOC. Sultan Agung dua kali berusaha menyerang VOC: tahun 1628 dan
1629.Penyerangan tersebut tidak berhasil, tetapi dapat membendung pengaruh VOC
di Jawa.Sultan Agung membagi sistem pemerintahan
Kerajaan Mataram seperti berikut:
(1) Kutanegara, daerah pusat
keraton. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh Patih Lebet (Patih Dalam) yang
dibantu Wedana Lebet (Wedana Dalam).
(2) Negara Agung, daerah
sekitar Kutanegara. Pelaksanaan pemerintahan
dipegang Patih Jawi (Patih Luar) yang dibantu Wedana Jawi (Wedana Luar).
(3) Mancanegara, daerah di luar
Negara Agung. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati.
6. Kerajaan Banten
Kerajaan yang
terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan
Demak. Banten direbut oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah.
Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah. Syarif Hidayatullah adalah
salah seorang wali yang diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah
di Cirebon. Syarif Hidayatullah memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean
dan Pangeran Sabakingkin. Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun
1522, Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin
diangkat menjadi Raja Banten.Setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran,
Banten kemudian melepaskan diri dari Demak. Berdirilah Kerajaan Banten dengan
rajanya Sultan Hasanudin (1522- 1570). Pada masa pemerintahannya, pengaruh
Banten sampai ke Lampung. Artinya, Bantenlah yang menguasai jalur perdagangan
di Selat Sunda. Para pedagang dari Cina, Persia, Gujarat, Turki banyak yang
mendatangi bandar-bandar di Banten.
Kerajaan Banten
berkembang menjadi pusat perdagangan selain karena letaknya sangat strategis,
Banten juga didukung oleh beberapa faktor di antaranya jatuhnya Malaka ke
tangan Portugis (1511) sehingga para pedagang muslim
berpindah jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Faktor lainnya, Banten
merupakan penghasil lada dan beras, komoditi yang laku di pasaran dunia.Sultan
Hasanudin kemudian digantikan putranya, Pangeran Yusuf (1570-1580).Pada masa
pemerintahannya, Banten berhasil merebut Pajajaran dan Pakuan.Pangeran Yusuf
kemudian digantikan oleh Maulana Muhammad. Raja yang bergelar Kanjeng Ratu
Banten ini baru berusia sembilan tahun ketika diangkat menjadi raja. Oleh sebab
itu, dalam menjalankan roda pemerintahan, Maulana Muhammad dibantu oleh
Mangkubumi. Dalam tahun 1595, dia memimpin ekspedisi menyerang Palembang. Dalam
pertempuran itu, Maulana Muhammad gugur.Maulana Muhammad kemudian digantikan
oleh putranya Abu’lmufakhir yang baru berusia lima bulan. Dalam menjalankan
roda pemerintahan, Abu’lmufakhir dibantu oleh Jayanegara. Abu’lmufakhir
kemudian digantikan oleh Abu’ma’ali Ahmad Rahmatullah. Abu’ma’ali Ahmad
Rahmatullah kemudian digantikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692).Sultan
Ageng Tirtayasa menjadikan Banten sebagai sebuah kerajaan yang maju dengan
pesat. Untuk membantunya, Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1671 mengangkat
purtanya, Sultan Abdulkahar, sebagi raja pembantu. Namun, sultan yang bergelar
Sultan Haji berhubungan dengan Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak
menyukai hal itu berusaha mengambil alih kontrol pemerintahan, tetapi tidak
berhasil karena Sultan Haji didukung Belanda. Akhirnya, pecahlah perang
saudara. Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dipenjarakan. Dengan demikian,
lambat laun Banten mengalami kemunduran karena tersisih oleh Batavia yang
berada di bawah kekuasaan Belanda.
7. Kerajaan Cirebon
Kerajaan yang
terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah didirikan oleh salah
seorang anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif
Hidayatullah.Syarif Hidayatullah membawa kemajuan bagi Cirebon. Ketika Demak
mengirimkan pasukannya di bawah Fatahilah (Faletehan) untuk menyerang Portugis
di Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah memberikan bantuan sepenuhnya. Bahkan pada
tahun 1524, Fatahillah diambil menantu oleh Syarif Hidayatullah. Setelah
Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah
meminta Fatahillah untuk menjadi Bupati di Jayakarta.Syarif Hidayatullah
kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Pasarean. Inilah raja
yang menurunkan raja-raja Cirebon selanjutnya.Pada tahun 1679, Cirebon terpaksa
dibagi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman.Dengan politik de vide at impera yang
dilancarkan Belanda yang pada saat itu sudah berpengaruh di Cirebon, kasultanan
Kanoman dibagi dua menjadi Kasultanan Kanoman dan Kacirebonan. Dengan demikian,
kekuasaan Cirebon terbagi menjadi 3, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.
Cirebon berhasil dikuasai VOC pada akhir abad ke-17.
8. Kerajaan Gowa-Tallo
Kerajaan yang
terletak di Sulawesi Selatan sebenarnya terdiri atas dua kerjaan, Gowa dan
Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu. Raja Gowa, Daeng Manrabia, menjadi
raja bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo, Karaeng Mantoaya, menjadi
perdana menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat
di Makassar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan
Makassar.Karena posisinya yang strategis di antara wilayah barat dan timur
Nusantara, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi bandar utama untuk memasuki
Indonesia Timur yang kaya
rempah-rempah. Kerajaan Makassar memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama
dari daerah Bugis. Mereka inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut
Makassar.Raja yang terkenal dari kerajaan ini ialah Sultan Hasanuddin
(1653-1669).
9. Kerajaan Ternate Dan Tidore
Ternate merupakan
kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin
(1486-1500). Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Giri di Kerajaan Demak.
Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya dengan Sultan Mansur sebagai
raja.Kerajaan yang terletak di Indonesia Timur menjadi incaran para pedagang
karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat
hasil rempah-rempah terutama cengkih.
Ternate dan Tidore
hidup berdampingan secara damai. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung
selamanya. Setelah Portugis dan Spanyol datang ke Maluku, kedua kerajaan
berhasil diadu domba. Akibatnya, antara kedua kerajaan tersebut terjadi
persaingan. Portugis yang masuk Maluku pada tahun 1512 menjadikan Ternate
sebagai sekutunya dengan membangun benteng Sao Paulo. Spanyol yang masuk Maluku
pada tahun 1521 menjadikan Tidore sebagai sekutunya.Dengan berkuasanya kedua
bangsa Eropa itu di Tidore dan Ternate, terjadi pertikaian terus-menerus. Hal
itu terjadi karena kedua bangsa itu sama-sama ingin memonopoli hasil bumi dari
kedua kerajaan tersebut. Di lain pihak, ternyata bangsa Eropa itu bukan hanya
berdagang tetapi juga berusaha menyebarkan ajaran agama mereka. Penyebaran
agama ini mendapat tantangan dari Raja Ternate, Sultan Khairun (1550-1570).
Ketika diajak berunding oleh Belanda di benteng Sao Paulo, Sultan Khairun
dibunuh oleh Portugis.Setelah sadar bahwa mereka diadu domba, hubungan kedua
kerajaan membaik kembali.
D. Tokoh-Tokoh Dalam Perkembangan Islam Di Indonesia
Proses penyebaran Islam di wilayah Nusantara tidak dapat
dilepas dari peran aktif para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima
dengan baik dikalangan masyarakat. Di antara Ulama tersebut adalah sebagai
berikut:
a.
Hamzah Fansuri
Ia hidup
pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1590. Pengembaraan
intelektualnya tidak hanya di Fansur-Aceh, tetapi juga ke India, Persia, Mekkah
dan Madinah. Dalam pengembaraan itu ia sempat mempelajari ilmu fiqh, tauhid,
tasawuf, dan sastra Arab.
b.
Syaikh Muhammad
Yusuf Al-Makasari
Beliau
lahir di Moncong Loe, Gowa, Sulawesi Selatan pada tanggal 3 Juli 1626 M/1037 H.
Ia memperoleh pengetahuan Islam dari banyak guru, di antaranya yaitu; Sayid Ba
Alwi bin Abdullah Al-‘allaham (orang Arab yang menetap di Bontoala), Syaikh
Nuruddin Ar-Raniri (Aceh), Muhammad bin Wajih As-Sa’di Al-Yamani (Yaman), Ayub
bin Ahmad bin Ayub Ad-Dimisqi Al-Khalwati (Damaskus), dan lain sebagainya.
c.
Syaikh Abdussamad Al-Palimbani
Ia merupakan salah seorang
ulama terkenal yang berasal dari Sumatra Selatan. Ayahnya adalah seorang Sayid
dari San’a, Yaman. Ia dikirim ayahnya ke Timur Tengah untuk belajar. Di antara
ulama sezaman yang sempat bertemu dengan beliau adalah; Syaikh Muhammad Arsyad
Al-Banjari, Abdul Wahab Bugis, Abdurrahman Bugis Al-Batawi dan Daud Al-Tatani.
c.
Syaikh Muhammad bin
Umar n-Nawawi Al-Bantani
Beliau lahir di
Tanar, Serang, Banten. Sejak kecil ia dan kedua saudaranya, Tamim dan Ahmad, di
didik oleh ayahnya dalam bidang agama; ilmu nahwu, fiqh dan tafsir. Selain itu
ia juga belajar dari Haji Sabal, ulama terkenal saat itu, dan dari Raden Haji
Yusuf di Purwakarta Jawa Barat. Kemudian ia pergi ke Mekkah untuk menunaikan
ibadah haji dan menetap disana kurang lebih tiga tahun. Di Mekkah ia belajar
Sayid Abmad bi Sayid Abdurrahman An-Nawawi, Sayid Ahmad Dimyati dan Sayid Ahmad
Zaini Dahlan. Sedangkan di Madinah ia berguru kepada Syaikh Muhammad Khatib
Sambas Al-Hambali. Selain itu ia juga mempunyai guru utama dari Mesir.
Pada tahun 1833
beliau kembali ke Banten. Dengan bekal pengetahuan agamanya ia banyak terlibat
proses belajar mengajar dengan para pemuda di wilayahnya yang tertarik denga
kepandaiannya.. tetapi ternyata beliau tidak betah tinggal di kampung
halamannya. Karena itu pada tahun 1855 ia berangkat ke Haramain dan menetap
disana hingga beliau wafat pada tahun 1897 M/1314 H.
e.
Wali Songo
Dalam sejarah
penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di pulau Jawa terdapat sembilan orang
ulama yang memiliki peran sangat besar. Mereka dikenal dengan sebutan wali
songo.
Para wali ini
umumnya tinggal di pantai utara Jawa sejak dari abad ke-15 hingga pertengahan
abad ke-16. Para wali menyebarkan Islam di Jawa di tiga wilayah penting, yaitu;
Surabaya, Gresik dan Lamongan (Jawa Timur), Demak, Kudus dan Muria (Jawa
Tengah), serta di Cirebon Jawa Barat. Wali Songo adalah para ulama yang menjadi
pembaru masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban
baru seperti, kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan,
kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
BAB III
KESIMPULAN
Islam masuk ke
nusantara sekitar abad ke 7 masehi dan sebelum islam masuk di nusantara , sudah
banyak agama dan kepercayaan yang berkembang seperti animisme, dinamisma,hindu,
budha. Islam masuk di nusantara melalui berbagai macam cara yaitu melalui perdagangan,
kurtural, pendidikan, kekuasaan politik.
Setelah islam masuk
di nusantara, islam langsung berkembang dengan sangat pesat dan semakin banyak
orang yang masuk islam karena cara penyebaran islam sangat bagus dan tanpa
paksaan. Karena semakin banyak orang yang memeluk agama islam sehingga hal ini
menyebabkan mulai banyak kerajaan kerajaan islam yeng berdiri di
nusantara. Kerajaan yang pertama berdiri di nusantara adalah samudera pasai,
dan setelah itu makin banyak kerajaan kerajaan yang berdiri seperti Demak,
Cirebon, Ternate, Tidore, Aceh, Perlak, Banten, dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar