Song

Sabtu, 20 Februari 2016

KERANGKAH NASKAH DRAMA "NASEHAT DARI PENJUAL BAKMI"

A. Kerangka Naskah

Tema   : Nasehat dari Penjual Bakmi

Judul    : Semamgkuk Bakmi


1.      Pelukisan awal
Ana bertengkar hebat dengan ibunya.
2.      Pertikaian awal
Penuh amarah yang memuncak, akhirnya Ana meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
3.      Pertikaian klimaks
Saat menyusuri sebuah jalan ia melewati kedai dan mencium harumnya aroma masakan sang pedagang bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkuk, tetap tak sepeserpun uang di kantongnya.
4.      Penyelesaian
Akhirnya Ana kembali pulang ke rumahnya.

B.  Naskah Drama

Tema : Nasehat dari Penjual Bakmi
Setting : Rumah, Pinggir Jalan, dan Kedai
Pelaku :
1.       Ana berwatak pemarah
2.       Ibu berwatak pemarah dan baik
3.       Pemilik kedai berwatak baik 
Prolog :
Pada suatu malam Ana bertengkar hebat dengan ibunya. Penuh amarah yang memuncak, akhirnya Ana meninggalkan rumah tanpa membawa apapun di perjalanannya. Saat menyusuri sebuah jalan ia melewati kedai dan mencium harumnya aroma masakan sang pedagang bakmi.
Dialog :
Pemilik kedai : ”Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi ?“
Ana                : “Ya, tetapi aku tidak membawa uang.”(malu-malu)
Pemilik kedai : “ Tidak apa-apa aku akan mentraktirmu. Silahkan duduk, aku akan memasakkan semangkuk bak mi untukmu.”
Tidak lama kemudian pemilik kedai membawa semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.
Pemilik kedai : “Ada apa nona?”
Ana                : “ Tidak apa-apa aku hanya terharu (sambil mengusap air matanya). Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Tetapi ibuku sendiri, setelah denganku, ia mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah (ucapan Ana disertai sedu-sedan sambil meneruskan curahan hatinya), kau seorang yang baru kukenal, tetapi dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri.”
Setelah mendengar perkataan Ana, pemilik kedai menarik nafas panjang.
Pemilik kedai : “ Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini. Aku hanya memberimu semangkuk bakmi tetapi ibumu, kau malah bertengkar dengannya.”
Ana terhenyak mendengar hal tersebut.
Ana                :” Mengapa aku tidak berpikir tentang itu? Untuk semangkuk bakmi  dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterimakasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untuk selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”
Ana segera menghabiskan bakminya , lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat di perjalanan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah.
Ibu Ana              : “ Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapka makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan menjadi dingin jika tidak memakannya sekarang”.
Pada saat itu Ana tidak bisa menahan tangisannya. Ia langsung bersimpuh air mata di hadapan ibunya.

Epilog :
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterimakasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang tua, kita semestinya berterimakasih hingga habis usia dilekang waktu.

Semangkuk Bakmi

Pada sebuah malam…
Ana bertengkar hebat dengan ibunya. Penuh amarah yang membuncah, akhirnya Ana meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Dalam perjalanannya, ia baru menyadari sama sekali tdk membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai dan mencium harumnya aroma masakan sang pedagang bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkuk, tetapi tak sepeser uang pun di kantongnya.

Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya, tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu.”
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang..
“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.
“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Tetapi ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah,” ucapan Ana disertai sedu-sedan sambil meneruskan curahan hatinya, “Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri.”
Pemilik kedai setelah mendengar perkataan Ana menarik nafas panjang…
“Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini. Aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterimakasih kepadanya? Dan, kau malah bertengkar dengannya.”
Ana, terhenyak mendengar hal tersebut. “Mengapa aku tidak berpikir tentang itu? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterimakasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan kepada ibunya.
Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”.
Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia langsung bersimpuh penuh air mata dihadapan ibunya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar