A.
Kerangka Naskah
Tema : Nasehat
dari Penjual Bakmi
Judul : Semamgkuk Bakmi
1.
Pelukisan awal
Ana bertengkar hebat
dengan ibunya.
2.
Pertikaian awal
Penuh amarah yang
memuncak, akhirnya Ana meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
3.
Pertikaian klimaks
Saat menyusuri sebuah
jalan ia melewati kedai dan mencium harumnya aroma masakan sang pedagang bakmi.
Ia ingin sekali memesan semangkuk, tetap tak sepeserpun uang di kantongnya.
4.
Penyelesaian
Akhirnya Ana kembali
pulang ke rumahnya.
B. Naskah Drama
Tema : Nasehat dari Penjual
Bakmi
Setting : Rumah, Pinggir
Jalan, dan Kedai
Pelaku :
1.
Ana
berwatak pemarah
2.
Ibu
berwatak pemarah dan baik
3.
Pemilik
kedai berwatak baik
Prolog :
Pada suatu malam Ana
bertengkar hebat dengan ibunya. Penuh amarah yang memuncak, akhirnya Ana
meninggalkan rumah tanpa membawa apapun di perjalanannya. Saat menyusuri sebuah
jalan ia melewati kedai dan mencium harumnya aroma masakan sang pedagang bakmi.
Dialog :
Pemilik kedai : ”Nona,
apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi ?“
Ana
: “Ya, tetapi aku tidak membawa uang.”(malu-malu)
Pemilik kedai : “ Tidak
apa-apa aku akan mentraktirmu. Silahkan duduk, aku akan memasakkan semangkuk
bak mi untukmu.”
Tidak lama kemudian pemilik
kedai membawa semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air
matanya mulai berlinang.
Pemilik kedai : “Ada apa
nona?”
Ana
: “ Tidak apa-apa aku hanya terharu (sambil mengusap air matanya). Bahkan,
seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Tetapi ibuku
sendiri, setelah denganku, ia mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku
agar jangan kembali lagi ke rumah (ucapan Ana disertai sedu-sedan sambil
meneruskan curahan hatinya), kau seorang yang baru kukenal, tetapi dibandingkan
dengan ibu kandungku sendiri.”
Setelah mendengar perkataan
Ana, pemilik kedai menarik nafas panjang.
Pemilik kedai : “ Nona
mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini. Aku hanya memberimu
semangkuk bakmi tetapi ibumu, kau malah bertengkar dengannya.”
Ana terhenyak mendengar hal
tersebut.
Ana
:” Mengapa aku tidak berpikir tentang itu? Untuk semangkuk bakmi dari
orang yang baru kukenal, aku begitu berterimakasih, tetapi kepada ibuku yang
memasak untuk selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan
kepedulianku kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar
dengannya.”
Ana segera menghabiskan
bakminya , lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat di
perjalanan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada
ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah
letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari
mulutnya adalah.
Ibu
Ana
: “ Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapka makan malam dan
makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan menjadi dingin jika tidak
memakannya sekarang”.
Pada saat itu Ana tidak bisa
menahan tangisannya. Ia langsung bersimpuh air mata di hadapan ibunya.
Epilog :
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterimakasih kepada orang
lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.
Tetapi kepada orang tua, kita semestinya berterimakasih hingga habis usia
dilekang waktu.
Semangkuk
Bakmi
Pada sebuah malam…
Ana
bertengkar hebat dengan ibunya. Penuh amarah yang membuncah, akhirnya Ana
meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Dalam perjalanannya, ia baru menyadari
sama sekali tdk membawa uang.
Saat
menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai dan mencium harumnya aroma
masakan sang pedagang bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkuk, tetapi tak
sepeser uang pun di kantongnya.
Pemilik
kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona,
apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”
” Ya,
tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak
apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku
akan memasakkan bakmi untukmu.”
Tidak
lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan
beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang..
“Ada
apa nona?” tanya si pemilik kedai.
“Tidak
apa-apa. Aku hanya terharu,” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan,
seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi. Tetapi ibuku
sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan
kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah,” ucapan Ana disertai sedu-sedan
sambil meneruskan curahan hatinya, “Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu
peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri.”
Pemilik
kedai setelah mendengar perkataan Ana menarik nafas panjang…
“Nona
mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini. Aku hanya memberimu
semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi
untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterimakasih
kepadanya? Dan, kau malah bertengkar dengannya.”
Ana,
terhenyak mendengar hal tersebut. “Mengapa aku tidak berpikir tentang itu?
Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterimakasih,
tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak
memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan, hanya karena persoalan sepele, aku
bertengkar dengannya.
Ana,
segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke
rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg harus diucapkan
kepada ibunya.
Begitu
sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas.
Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah
“Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan
makanlah dahulu sebelum kau tidur. Makanan akan menjadi dingin jika kau tidak
memakannya sekarang”.
Pada
saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya. Ia langsung bersimpuh penuh air
mata dihadapan ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar