Song

Sabtu, 20 Februari 2016

DRAMA "PERSAHABATAN"

Narator : Winda dan Sarah merupakan sahabat baik. Mereka telah bersahabat sejak kecil, tapi suatu hari ketika keluarganya Sarah jatuh miskin, Winda pun tak ingin lagi bersahabat dengan Sarah. Saat Winda, Sarah, Chaya, dan Alvi sedang bersih-bersih kelas sebelum pulang, Sarah meminta bantuan Winda, tapi Winda malah menghina Sarah.

Sarah    : Winda, bisakah kau menolongku untuk menggeser meja ini?
Winda   : Apa? Menolongmu? Kau pikir kau itu siapa?
Sarah    : Ada apa denganmu, Winda? Bukankah kita sahabat? Apa kau
sudah lupa ?
Winda  : Sahabat? Maaf ya, aku tidak punya sahabat seperti mu yang
miskin. Aku hanya mau bersahabat dengan orang yang kaya.
Alvi : Kenapa dengan kalian berdua? Sepertinya sedang bermasalah.
Sarah : Tidak ada apa-apa. Kita berdua baik-baik saja. Ya kan Winda?
Winda  : Baik-baik saja? tadi anak miskin ini meminta bantuan ke
aku. Tapi sayang, aku tak ingin membantu orang seperti dia,
Mana dia mengaku jadi sahabat aku lagi? Eww.

           (Sarah pun pergi karena mendengar perkataan Winda seperti itu)

Alvi : Jangan begitu Winda. Bukannya kau dan Sarah memang
         bersahabat dari kecil? Masa’ karena sekarang Sarah dan
         keluarganya jatuh miskin, kau tidak mau lagi bersahabat
        dengannya? Bukannya saat-saat seperti ini kau bisa tunjukkan ke dia,                         kalau kau memang sahabatnya. Bukan malah meninggalkannya.
Chaya  : Betul kata Alvi. Seharusnya kau sekarang mendukung dia,bukan menghina dia seperti itu. Kasihan Sarah.
Winda  : Kalian pikir siapa kalian yang berani menasehatiku?
Terserah aku mau berbuat apa. Urus saja diri kalian.
Alvi    :Kita bukannya bermaksud menasehati kamu. Tapi kita tidak mau persahabatan kamu dan Sarah berakhir seperti ini.
Winda  : Aargh, itu bukan urusan kalian.

(Winda pun langsung pulang)


Chaya : Bisa-bisanya dia berbuat begitu kepada Sarah. Bukankah selama ini dia yang selalu saja membela Sarah ketika ada masalah?
Alvi : itu hanya dia yang tahu. Tapi satu hal yang akhirnya kita tahu,
Winda hanya mau berteman dengan orang yang Kaya.
Chaya    : Pantas saja.
Alvi : sudahlah jangan dibahas lagi, lebih baik kita pulang saja.
Chaya   : betul itu.
Alvi   : Let’s Go !!!

Narator :  Keesokan harinya, mereka kembali masuk kesekolah            seperti biasa, tetapi tidak dengan Sarah. Hal ini pun terjadi selama 2 minggu berturut-turut. Pada akhirnya ketika mereka berempat sedang dalam perjalanan ke sekolah, dengan tidak sengaja mereka bertemu dengan Sarah di pinggir jalan yang sedang mencari kardus-kardus.

Alvi : Hey bukannya itu Sarah?
Chaya : iya benar itu Sarah. Sedang apa dia? Bukannya masuk sekolah
tapi jalan-jalan.
Alvi : iya benar.

(Alvi pun langsung menarik Winda yang jalan di belakangnya dan sedang asyik dengan Hanphone)

Alvi : Lihat itu? Apa yang sahabatmu lakukan?
Winda  : Pasti sedang mencari-cari sampah. Dia kan orang miskin.
Chaya   : Apa’an sih. Ayo kita kesana.
Alvi : Sarah, apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak masuk sekolah
selama 2 minggu ini?
Sarah : (dengan Kaget) aku? Ya, seperti yang kalian lihat.
Winda  : Aku bilang juga apa?. Pasti dia sedang mencari-cari sampah.
Seperti kalian tidak tahu saja pekerjaan orang miskin.
Chaya : Sudahlah Winda, meski begitu Sarah itu sahabatmu.
Alvi : Apa-apaan sih. Kenapa kau tidak masuk sekolah Sarah?
Sarah : Begini, orang tuaku tidak punya uang untuk membiayai aku dan
adikku untuk sekolah. Sedangkan adikku masih mau sekolah,
jadi aku mengalah saja untuk adikku. Biar adikku yang sekolah
dan aku membantu orang tua ku untuk menyambung hidup.
Chaya   : Mulia sekali hati mu, Sarah.
Winda  : Mulia apanya? Dia cuma mau cari simpati tahu? kalian ini
mudah sekali dibodohi sama dia.
Sarah : Tega sekali kau berkata begitu pada ku. Aku memang sekarang
sudah miskin, tapi aku masih punya perasaan. Kalau kamu tidak mau bersahabat lagi dengan ku, ya sudah, itu tidak jadi masalah buat ku, tapi jangan kau hina aku dengan kata-katamu itu. Satu lagi, aku tidak pernah menyesal berkenalan dengan mu.Tapi itu merupakan pembelajaran bagi ku. Terima kasih Winda.

(Sarah pun lari secepat mungkin meninggalkan mereka bertiga dengan perasaan yang bercampur aduk)

Alvi : sudah puas kau menyakiti dia? ingat Winda, suatu hari nanti kau
juga akan merasa apa yang Sarah rasakan sekarang.
Chaya  : Betul itu.
Winda  : Apa? Itu tidak mungkin. Keluarga ku tidak mungkin jatuh miskin
seperti dia. Keluargaku memiliki banyak usaha yang menghasilkan banyak uang. Dan tidak akan habis untuk 5 generasi. Haha

(sambil tertawa Winda pun jalan meninggalkan mereka berdua)

Chaya   : Sombong sekali anak itu. Semoga hidupnya baik-baik saja.
Alvi : Ya, semoga saja. Memang terkadang kita harus menyadari bahwa
ada orang tertentu yang bisa tinggal dihati kita, namun tidak
dalam kehidupan kita
Chaya : Ya betul itu. Dan semoga suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi
   dengan Sarah.

(mereka bertiga akhrinya melanjutkan perjalan ke sekolah)

Narator : Setelah 3 tahun berlalu, Winda, , Chaya, dan Alvi tidak bertemu Sarah. Ternyata Sarah sekarang di angkat oleh keluarga kaya dan Sarah disekolahkan di sekolah yang sama dengan , Chaya, dan Alvi. Suatu  hari ketika Sarah masuk untuk pertama kali di sekolah yang baru itu, , Chaya, dan Alvi sangat terkejut.

Chaya   : Hey ! Lihat anak baru itu, sepertinya mukanya sudah tak asing lagi   buatku.
Alvi       : Ehmmm, iya Sil. Sepertinya aku sudah pernah kenal dengan dia.
Chaya   : HAAH???? ITU BUKANNYA SARAH??
Alvi       : Ohh, iya, iya itu Sarah !!
Chaya        : Hey !! Sarah, kemarilah !!
Sarah      : Haah, kalian bedua?? Kalian sekolah disini?
Chaya    : Iya
Sarah      : Wah, aku tidak menyangka akan bertemu kalian lagi. Mana Winda?
Chaya        : Kami sudah tidak bertemu dia sejak 2 tahun lalu.
Alvi       : Iya, sepertinya dia pindah rumah.
: Sudahlah, ayo kita ke kelas. Kelasmu sama dengan kelasku kan?
Sarah      : Emm, Iya
Alvi     : Let’s Go !!!

Narator  : Saat pulang sekolah, Winda mengamen di depan rumah Sarah. Dan ternyata , Chaya, dan Alvi sedang berada di rumah Sarah. Lalu mereka berempat menghampiri Winda.

Chaya  : Winda, sedang apa kau?
Winda       : Lohh, kalian? Aku..., aku... aku sedang bekerja untuk menghidupi diriku sendiri.
Chaya        : Kemana orang tuamu?? Kenapa bisa kamu bekerja?
Winda       : Orangtuaku meninggal 2 tahun lalu karena kecelakaan, dan usaha mereka tidak ada yang meneruskannya. Jadi semua harta orangtuaku sudah habis, dan aku hanya hidup sendirian sekarang.
Alvi       : Oh begitu, Winda. Aku jadi teringat kata-kata yang aku ucapkan dulu. Maafkan aku, winda.
Winda       : Seharusnya aku yang meminta maaf. Dulu aku terlalu sombong kepadamu, Sarah. Sekarang aku merasakan apa yang kamu rasakan, aku tahu Tuhan memang adil. Aku menyesal, Sarah. Maafkan aku.
Sarah      : Sudahlah, winda. Lupakan saja, aku sudah melupakan semuanya yang kau katakan dulu. Sekarang kita ber-empat bersahabatkan?
Chaya  : Iya. Apapun yang terjadi kita akan tetap bersama, iya kan?
Chaya & Alvi : Setuju !
Winda       : emm, apa kalian benar-benar memaafkan aku?
Sarah      : Tentu saja, Winda. Aku yakin sekarang kau sudah berubah.
Winda       : Baiklah, terima kasih teman-teman. Ternyata persahabatan itu segala-galanya.
Chaya : Bagaimana kalau kita membantumu mengamen, winda?
Alvi       : Aku setuju, pasti sangat menyenangkan.
Sarah      : Ayo! Mengamen dimana winda?
Winda       : di pertigaan Purwosari saja, disana kan ramai?
Alvi    : Let’s Go!!!!!!

( Mereka berempat pun berjalan menuju pertigaan Purwosari)

Narator  : Semenjak hari itu, Winda, Sarah, , Chaya, dan Alvi bersahabat. Winda gkat menjadi anak orang tua angkat Sarah. Mereka berempat selalu bersama dan selalu tertawa bersama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar