BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang,
secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan") adalah
perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara
vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan
oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut,
longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat
merambat ke segala arah. Tenaga
yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian
dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami
dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan
pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter.
Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di
tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun
hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga
mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer
dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa
diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran
gelombang tsunami.
Dampak negatif yang diakibatkan
tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta
menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air
bersih.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides
merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah lain. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat
minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami. Teks-teks
geologi, geografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami sebagai
"gelombang laut seismik".
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa yang di maksud dengan tsunami?
2.
Apa penyebab dari bencana tsunami?
3.
Gejala apa saja yang muncul sebelum tsunami terjadi?
4.
Bagaimana poses terjadinya tsunami?
5.
Apa akibat dari bencana tsunami?
6.
Bagaimana upaya untuk pencegahan serta penanggulangan
tsunami?
7.
Dimana saja kawasan yang pernah terjadi bencana
tsunami?
C. Tujuan
1.
Mengidentifikasi tanda-tanda tsunami
2.
Menemutunjukkan sebaran wilayah potensi
tsunami
3.
Responsif saat terjadi gempa, badai,
yang bersumber di tepi pantai
4.
Trampil mencari lokasi aman dari wilayah landai di pantai ke lokasi relatif
tinggi
5.
Terampil bersikap menjauh dari pantai
bila tiba-tiba air surut menjauh ke lepas pantai
D.
Manfaat
Agar kita
mengetahui lebih dalam karakteristik dan mekanisme tsunami serta mitigasi untuk
bencana tsunami baik dalam tahap waspada, mitigasi, saat terjadi, dan setelah
tsunami terjadi.
Bab II
Pembahasan
A. Pengertian
Tsunami
Tsunami
adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga
lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempa bumi yang terjadi di
dasar laut.
Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan
kedalaman7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan
ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi
gelombangnya di tengah laut tidak lebihdari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang
sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami. Berbeda dengan
gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang gelombang antara dua puncaknya
lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara puncak-puncak
gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang
dangkal, teluk,atau muara sungai gelombang ini menurun kecepatannya, namun
tinggi gelombangnya meningkat puluhan meter dan bersifat merusak.
B. Penyebab Tsunami
Tsunami tidak akan terjadi jika
tidak ada faktor pemicu.
Faktor
penyebab terjadinya tsunami ini adalah:
1. Gempa Bumi
yang Berpusat di Bawah Laut
Meskipun demikian, tidak semua gempa bumi dibawah laut
berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa bumi dasar laut dapat menjadi pernyebab
terjadinya tsunami adalah gempa bumi dengan kriteria sebagai berikut:
a.
Gempa bumi yang terjadi di dasar laut.
b.
Pusat gempa kurang dari 30 km dari permukaan laut.
c.
Magnitudo gempa lebih besar dari 6,0 SR.
d.
Jenis pensesaran gempa tergolong sesar vertikal (sesar
naik atau turun).
Tsunami yang ditimbulkan oleh gempabumi biasanya
menimbulkan gelombang yang cukup besar, tergantung dari kekuatan gempanya
dan besarnya area patahan yang terjadi.
Tsunami dapat dihasilkan oleh
gangguan apapun yang dengan cepat memindahkan suatu massa air yang sangat
besar, seperti suatu gempabumi, letusan vulkanik, batu bintang/meteor
atau tanah longsor. Bagaimanapun juga, penyebab yang paling umum terjadi
adalah dari gempabumi di bawah permukaan laut. Gempabumi kecil bisa saja
menciptakan tsunami akibat dari adanya longsor di bawah permukaan laut/lantai
samudera yang mampu untuk membangkitkan tsunami. Tsunami dapat terbentuk
manakala lantai samudera berubah bentuk secara vertikal dan memindahkan
air yang berada di atasnya. Dengan adanya pergerakan secara vertical dari
kulit bumi, kejadian ini biasa terjadi di daerah pertemuan lempeng yang disebut
subduksi. Gempa bumi di daerah subduksi ini biasanya sangat efektif untuk
menghasilkan gelombang tsunami dimana lempeng samudera slip di bawah
lempeng kontinen, proses ini disebut juga dengan subduksi.
2. Letusan
Gunung Berapi
Letusan gunung berapi dapat menyebabkan terjadinya
gempa vulkanik (gempa akibat letusan gunung berapi). Tsunami besar yang terjadi
padatahun 1883 adalah akibat meletusnya Gunung Krakatau yang berada di Selat
Sunda. Meletusnya Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat padatanggal 10-11 April
1815 juga memicu terjadinya tsunami yang melanda Jawa Timur dan Maluku.
Indonesia sebagai negara kepulauan yang beradadi wilayah ring of fire (sabuk
berapi) dunia tentu harus mewaspadai ancaman ini.
3. Longsor
Bawah Laut
Longsor bawah laut ini terjadi akibat adanya tabrakan
antara lempeng samudera dan lempeng benua. Proses ini mengakibatkan terjadinya
palung laut dan pegunungan. Tsunami karena longsoran bawah laut ini dikenal
dengan nama tsunamic submarine landslide.
4. Hantaman
Meteor di Laut
Jatuhnya meteor berukuran besar di laut juga merupakan
penyebab terjadinya tsunami.
C. Tanda-Tanda
Akan Terjadinya Tsunami
1.
Diawali dengan gempa bumi.
2.
Air laut tiba-tiba surut
3.
Bau garam menyengat
4.
Langit tampak berwarna hitam
5.
Terjadi ledakan yang dahsyat
D. Sistem Peringatan Dini
Banyak
kota-kota di sekitar Pasifik, terutama di Jepang dan juga Hawaii, mempunyai
sistem peringatan tsunami dan prosedur evakuasi untuk menangani kejadian
tsunami. Bencana tsunami dapat diprediksi oleh berbagai institusi seismologi di
berbagai penjuru dunia dan proses terjadinya tsunami dapat dimonitor melalui
perangkat yang ada di dasar atu permukaan laut yang terknoneksi dengansatelit.
Perekam
tekanan di dasar laut bersama-sama dengan perangkat yang mengapung di laut
buoy, dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang yang tidak dapat dilihat oleh
pengamat manusia pada laut dalam. Sistem sederhana yang pertama kali digunakan
untuk memberikan peringatan awal akan terjadinya tsunami pernah dicoba di Hawai
pada tahun 1920-an. Kemudian, sistem yang lebih canggih dikembangkan lagi
setelah terjadinya tsunami besar pada tanggal 1 April 1946 dan 23 Mei 1960.
Amerika serikat membuat Pasific Tsunami Warning Center pada tahun 1949, dan
menghubungkannya ke jaringan data dan peringatan internasional pada tahun 1965.
Salah satu
sistem untuk menyediakan peringatan dini tsunami, CREST Project, dipasang di
pantai Barat Amerika Serikat, Alaska, dan Hawai oleh USGS, NOAA, dan Pacific
Northwest Seismograph Network, serta oleh tiga jaringan seismik universitas.
Hingga kini,
ilmu tentang tsunami sudah cukup berkembang, meskipun proses terjadinya masih
banyak yang belum diketahui dengan pasti. Episenter dari sebuah gempa bawah
laut dan kemungkinan kejadian tsunami dapat cepat dihitung. Pemodelan tsunami
yang baik telah berhasil memperkirakan seberapa besar tinggi gelombang tsunami
di daerah sumber, kecepatan penjalarannya dan waktu sampai di pantai, berapa
ketinggian tsunami di pantai dan seberapa jauh rendaman yang mungkin terjadi di
daratan. Walaupun begitu, karena faktor alamiah, seperti kompleksitas topografi
dan batimetri sekitar pantai dan adanya corak ragam tutupan lahan (baik
tumbuhan, bangunan, dll), perkiraan waktu kedatangan tsunami, ketinggian dan
jarak rendaman tsunami masih belum bisa dimodelkan secara akurat.
Pemerintah
Indonesia, dengan bantuan negara-negara donor, telah mengembangkan Sistem
Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesian Tsunami Early Warning System -
InaTEWS). Sistem ini berpusat pada Badan
Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Sistem ini
memungkinkan BMKG mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa yang
berpotensi mengakibatkan tsunami. Sistem yang ada sekarang ini sedang
disempurnakan. Kedepannya, sistem ini akan dapat mengeluarkan 3 tingkat
peringatan, sesuai dengan hasil perhitungan Sistem Pendukung Pengambilan
Keputusan (Decision Support System - DSS).
Pengembangan
Sistem Peringatan Dini Tsunami ini melibatkan banyak pihak, baik instansi
pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga internasional, lembaga
non-pemerintah. Koordinator dari pihak
Indonesia adalah Kementrian Negara Riset dan Teknologi(RISTEK). Sedangkan
instansi yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan INFO GEMPA dan
PERINGATAN TSUNAMI adalah BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika).
Sistem ini didesain untuk dapat mengeluarkan peringatan tsunami dalam waktu
paling lama 5 menit setelah gempa terjadi.
Sistem
Peringatan Dini memiliki 4 (empat) komponen yaitu
sebagai berikut.
1. Pengetahuan mengenai Bahaya dan Resiko,
2. Peramalan,
3. Peringatan, dan Reaksi.Observasi (Monitoring gempa dan permukaan laut),
4. Integrasi dan Diseminasi Informasi, Kesiapsiagaan.
E.
Rambatan Tsunami
Kecepatan rambat gelombang tsunami
berbeda-beda, tergantung pada kedalaman laut. Di laut dalam, kecepatan rambat
tsunami mencapai 500 – 1000km per jam atau setara dengan kecepatan pesawat
terbang namun ketinggiangelombangnya hanya sekitar 1 meter.Ketika gelombang
tsunami ini sudah mendekati pantai, kecepatan rambatnya hanya sekitar 30 km per
jam, namun ketinggian gelombangnya bisa mencapai puluhan meter. Ini sebabnya
banyak orang yang sedang berlayar di laut dalam tak menyadari adanya tsunami.
kehancuran mengerikan yang disebabkan oleh tsunami.
F. Karakteristik
Tsunami
1.
Kecepatan Tsunami
Secara empiris, kecepatan tsunami tergantung pada
kedalaman laut dan percepatan gravitasi di tempat tersebut. Untuk di laut
dalam, kecepatan tsunami bisa setara dengan kecepatan pesawat jet, yaitu
sekitar 800 km/jam. Semakin dangkal lautnya, kecepatan tsunami semakin
berkurang, yaitu berkisar antara 2 – 5 km/jam.
2.
Ketinggian Tsunami
Ketinggian gelombang Tsunami berbanding terbalik
dengan kecepatanya. Artinya, jika kecapatan tsunami besar, tetapi
ketinggian gelombang tsunami hanya beberapa puluh centimeter saja.
Sebaliknya untuk di daerah pantai, kecepatan tsunaminya kecil, sedangkan
ketinggian gelombangnya cukup tinggi, bisa mencapai puluhan meter.Ketinggian
tsunami di pantai dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
bentuk pantainya. Ada 2 (dua)
bentuk pantai yaitu :
a.
Pantainya terjal
Bentuk
pantai seperti ini mengakibatkan bagian utama dari energi tsunami
dipantulkan
oleh slope (pembatas). Sehingga pemantulannya secara utuh mengikuti
periode tsunami, tanpa pecah. Tinggi gelombang yang gelombang yang
dihasilkan antara 1 – 2 meter.
b.
Pantainya Landai
Bentuk pantai ini mengakibtkan energi tsunami akan dinaikkan oleh pantai,
disini berlaku prinsip dasar energi, yakni energi selalu konstan.
Sehingga jika kecepatannya berkurang maka amplitudonya besar, panjang
gelombangnya berkurang dan mengakibatkan pecahnya gelombang. Hal inilah
yang mengakibatkan tinggi gelombang tsunami bisa mencapai puluhan meter.
G. Skema
Terjadinya Tsunami
Tsunami
dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar
air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh
ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman
sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika
meletusnya Gunung Krakatau.
Gerakan
vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara
tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya.
Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di
pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Kecepatan
gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi,
dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami
mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya
sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang
tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai
tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa
air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis
pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa
kilometer.
Gerakan
vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak
terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng
benua.
Tanah
longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat
mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang
menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun
secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya
terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari
atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami
yang tingginya mencapai ratusan meter.
H. Dampak
Tsunami
1.
Dampak
Positif dari bencana tsunami :
a.
Bencana alam
merenggut banyak korban, sehingga lapangan pekerjaan menjadi terbuka luas bagi
yang masih hidup
b.
Kegunaan
secara Psikologis: Menjalin kerjasama dan bahu- membahu untuk menolong korban
bencana, menimbulkan efek kesadaran bahwa manusia itu saling membutuhkan satu
sama lain.
c.
Kita bisa
mengetahui samapai dimanakah konstruksi bangunan kita serta kelemahannya, dan
kita dapat melakukan inovasi baru untuk penangkalan apabila bencana tersebut
datang kembali tetapi dengan konstruksi yang lebih baik.
2.
Dampak
Negatif dari bencana tsunami
a.
Merusak apa
saja yang dilaluinya. bangunan, tumbuh-tumbuhan dan dan mengakibatkan korban
jiwa manusia, serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian,
tanah, dan air bersih.
b.
Banyak
tenaga kerja ahli yang menjadi korban, sehingga sulit mencari lagi tenaga ahli
yang sesuai dalam bidang pekerjaannya.
c.
Pemerintah
akan kewalahan dalam pelaksanaan pembangunan pasca bencana, karena faktor dana
yang besar.
d.
menambah
tingkat kemiskinan apabila ada masyarakat korban bencana yang kehilangan harta
benda.
I.
Mitigasi Tsunami
Mitigasi meliputi segala tindakan yang mencegah
bahaya, mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya, dan mengurangi daya rusak
suatu bahaya yang tidak dapat dihindarkan. Mitigasi adalah dasar managemen
situasi darurat. Mitigasi dapat didefinisikan sebagai “aksi yang mengurangi
atau menghilangkan resiko jangka panjang bahaya bencana alam dan akibatnya
terhadap manusia dan harta-benda” (FEMA, 2000). Mitigasi adalah usaha yang
dilakukan oleh segala pihak terkait pada tingkat negara, masyarakat dan
individu.
Untuk mitigasi bahaya tsunami atau untuk bencana alam
lainnya, sangat diperlukan ketepatan dalam menilai kondisi alam yang terancam,
merancang dan menerapkan teknik peringatan bahaya, dan mempersiapkan daerah
yang terancam untuk mengurangi dampak negatif dari bahaya tersebut. Ketiga langkah penting tersebut: 1) penilaian bahaya (hazard assessment),
2) peringatan (warning), dan 3) persiapan (preparedness) adalah unsur utama
model mitigasi. Unsur kunci lainnya yang tidak terlibat langsung dalam mitigasi
tetapi sangat mendukung adalah penelitian yang terkait (tsunami-related
research).
J. Penilaian Bahaya (Hazard Assessment)
Unsur
pertama untuk mitigasi yang efektif adalah penilaian bahaya. Untuk setiap
komunitas pesisir, penilaian bahaya tsunami diperlukan untuk mengidentifikasi
populasi dan aset yang terancam, dan tingkat ancaman (level of risk). Penilaian ini membutuhkan pengetahuan tentang karakteristik sumber tsunami,
probabilitas kejadian, karakteristik tsunami dan karakteristik morfologi dasar
laut dan garis pantai. Untuk beberapa komunitas, data dari tsunami yang pernah
terjadi dapat membantu kuantifikasi faktor-faktor tersebut. Untuk komunitas
yang tidak atau hanya sedikit memiliki data dari masa lalu, model numerik
tsunami dapat memberikan perkiraan. Tahapan ini umumnya menghasilkan peta
potensi bahaya tsunami, yang sangat penting untuk memotivasi dan merancang
kedua unsur mitigasi lainnya, peringatan dan persiapan.
1.
Data rekaman
tsunami (Historical tsunami data)
Rekaman data
umumnya tersedia dalam banyak bentuk dan di banyak tempat. Format yang ada
mencakup publikasi dan katalog manuskrip, laporan penyelidikan lapangan,
pengalaman pribadi, berita koran, rekaman film dan video. Salah satu instansi riset penyimpan data terbesar adalah International
Tsunami Information Center di Honolulu, Hawaii.
2.
Data
paleotsunami
Penelitian paleotsunami juga dapat dilakukan
pada endapan tsunami di daerah pesisir dan bukti-bukti lainnya yang terkait
dengan pergeseran sesar penyebab gempabumi tsunamigenik.
3.
Penyelidikan
pasca tsunami
Survey
penyelidikian pasca tsunami dilakukan mengikuti suatu peristiwa tsunami yang
baru terjadi untuk mengukur batas inundasi dan merekam keterangan saksi mata
mengenai jumlah gelombang, waktu kedatangan gelombang, dan gelombang mana yang
terbesar.
4. Pemodelan numerik
Seringkali karena rekaman data minimal,
satu-satunya jalan untuk menentukan daerah potensi bahaya adalah menggunakan
pemodelan numerik. Model dapat dimulai dari skenario terburuk. Informasi ini
kemudian menjadi dasar pembuatan peta evakuasi tsunami dan prosedurnya.
K. Peringatan (warning)
Unsur kunci kedua untuk mitigasi
tsunami yang efektif adalah suatu sistem peringatan untuk memberi peringatan
kepada komunitas pesisir tentang bahaya tsunami yang tengah mengancam. Sistem
peringatan didasarkan kepada data gempabumi sebagai peringatan dini, dan data
perubahan muka airlaut untuk konfirmasi dan pengawasan tsunami. Sistem
peringatan juga mengandalkan berbagai saluran komunikasi untuk menerima
data seismik dan perubahan muka airlaut, dan untuk memberikan pesan kepada
pihak yang berwenang. Pusat peringatan (warning center) haruslah:
1.
cepat – memberikan peringatan secepat mungkin setelah
pembentukan tsunami potensial terjadi,
2.
tepat – menyampaikan pesan tentang tsunami yang
berbahaya seraya mengurangi peringatan yang keliru, dan
3.
dipercaya – bahwa sistem bekerja terus-menerus, dan
pesan mereka disampaikan dan diterima secara langsung dan mudah dipahami oleh
pihak-pihak yang berkepentingan.
L.
Persiapan Menghadapi Tsunami
1.
Persiapan Menghadapi Tsunami
a. Mengetahui pusat informasi bencana,
seperti Posko Bencana, Palang Merah Indonesia, Tim SAR. Kenali areal rumah,
sekolah, tempat kerja, atau tempat lain yang beresiko. Mengetahui wilayah
dataran tinggi dan dataran rendah yang beresiko terkena Tsunami.
b. Jika melakukan perjalanan ke wilayah
rawan Tsunami, kenali hotel, motel, dan carilah pusat pengungsian. Adalah
penting mengetahui rute jalan keluar yang ditunjuk setelah peringatan dikeluarkan.
c. Siapkan kotak Persediaan Pengungsian
dalam suatu tempat yang mudah dibawa (ransel punggung), di dekat pintu.
d. Siapkan peersediaan makanan dan air
minum untuk pengungsian.
e. Siapkan selalu peralatan P3K
lengkap.
f. Membawa barang secukupnya saja untuk
keperluan pengungsian.
g. Segera mengungsi setelah ada
pemberitahuan dari pihak yang berwenang atas penyebaran informasi tentang
tsunami.
h. Jika hanya ada sedikit waktu sebelum
datang tsunami,segera mencari pintu dan mencari jalan keluar dari rumah atau
gedung dengan segera.
i.
Carilah
tempat yang tinggi dan aman dari gelombang tsunami,atau mengikuti rute dan
tempat yang suah ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
j.
Utamakan
keselamatan terlebih dahulu, jika terjadi kerusakan pada tempat Anda
berada,bila ingin menyelamatkan harta benda carilah yang mudah dan ringan
dibawa.
k. Pastikan tidak ada anggota keluarga
yang tertinggal pada saat pergi ke tempat evakuasi. Jika bisa ajaklah tetangga
dekat Anda untuk pergi bersama-sama.
l.
Jika tsunami
terjadi pada saat Anda sedang menyetir kendaraan, cepat keluar dan cari tempat
yang tinggi dan aman.
m. Setelah Terjadi Tsunami, Periksa
kesediaan makanan. Makanan apapun yang terkena air mungkin sudah tercemar dan
harus dibuang.
n. Memberikan bantuan kepada korban
luka-luka. Berikan bantuan P3K dan panggil bantuan. Jangan pindahkan orang yang
terluka, kecuali yang luka serius.
o. Segera membangun tenda pengungsian
apabila keadaan untuk kembali ke rumah tidak memungkinkan.
p. Pastikan keadaan sudah aman dan
tidak terjadi tsunami susulan sebelum kembali ke rumah.Bila keadaan rumah tidak
memungkinkan untuk ditempati carilah tempat tinggal yang bisa ditempati atau
kembali ke tempat pengungsian.
2.
Cara penanggulangan bencana tsunami:
a. Melaksanakan evakuasi secara
intensif.
b. Melaksanakan pengelolaan pengungsi.
c. Melakukan terus pencarian orang
hilang, dan pengumpulan jenazah.
d. Membuka dan hidupkan jalur logistik
dan lakukan resuplay serta pendistribusian
e. logistik yang diperlukan.
f. Membuka dan memulihkan jaringan
komunikasi antar daerah atau kota.
g. Melakukan pembersihan kota yang
hancur dan penuh puing dan lumpur.
h. Menggunakan dana pemerintah untuk
penanggulangan bencana dan gunakan pula dengan
i.
tepat
sumbangan dana baik dari dalam maupun luar negeri.
j.
Menyambut
dengan baik dan libatkan unsur civil society.
3. Upaya Penyelamatan diri saat terjadi
Tsunami
a. Sebesar apapun bahaya tsunami,
gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini
mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan.
b. Jika berada di sekitar pantai,
terasa ada guncangan gempabumi, air laut dekat pantaisurut secara tiba-tiba
sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yangtinggi
(perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.
c. Jika sedang berada di dalam perahu
atau kapal di tengah laut serta mendengar berita daripantai telah terjadi
tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut.
d. Jika gelombang pertama telah datang
dan surut kembali, jangan segera turun ke daerahyang rendah. Biasanya gelombang
berikutnya akan menerjang.
e. Jika gelombang telah benar-benar
mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban. Jika berada di sekitar pantai,
terasa ada guncangan gempabumi, air laut dekat pantaisurut secara tiba-tiba
sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yangtinggi
(perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain.
f. Jika sedang berada di dalam perahu
atau kapal di tengah laut serta mendengar berita daripantai telah terjadi
tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut.
g. Jika gelombang pertama telah datang
dan surut kembali, jangan segera turun ke daerahyang rendah. Biasanya gelombang
berikutnya akan menerjang.
h. Jika gelombang telah benar-benar
mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.
M.
Data Historis Tsunami
1. 1 November 1755, setelah gempa bumi kolosal menghancurkan Lisbon, Portugal
dan pegunungan di Eropa, orang menyelamatkan diri dengan menggunakan perahu.
Namun Tsunami akhirnya menyusul. Peristiwa mengerikan secara bersamaan tersebut
membunuh lebih dari 60 ribu orang.
2. 27 Agustus 1883, letusan gunung Krakatau memicu terjadinya tsunami yang
menenggelamkan 36 ribu orang Indonesia yang berada di pulau Jawa bagian barat
dan utara Sumatera. Kekuatan gelombang mendorong 600 ton blok terumbu karang
menuju tepi pantai bersama dengan arus tsunami yang besar.
3. 15 Juni 1896, gelombang setinggi 30 meter, disebabkan oleh gempa bumi
menyapu pantai timur Jepang. Sebanyak 27 ribu orang menjadi
korban.
4. 1 April 1946, tsunami April Fool, dipicu sebuah gempa yang terjadi di
Alaska, membunuh 159 orang, dan kebanyakan berada di kepulauan Hawaii.
5. 9 Juli 1958, diingat sebagai tsunami terbesar yang pernah dicatat oleh masa
modern, Gempa di Teluk Lituya Alaska disebabkan oleh tanah longsor yang awalnya
dipicu oleh gempa bumi berskala 8,3 skala richter. Gelombang sangat tinggi,
tetapi karena wilayah tersebut relatif terisolasi dan kondisi geologinya unik
maka tsunami tidak menyebabkan banyak kerusakan. Tapi hanya menenggelamkan satu
perahu dan membunuh dua orang
6. 22 Mei 1960, salah satu gempa besar yang tercatat manusia terjadi di Chile
sebesar 8,6 skala richter, menciptakan tsunami yang menerjang pantai Chile
dalam waktu kurang dari 15 menit. Gelombang setinggi 25 meter membunuh
1500 orang di Chile dan Hawaii,menjadi tsunami yang cukup besar.
7. 27 Maret 1964, dikenal sebagai gempa bumi Good Friday Alaska, dengan
kekuatan sekitar 8,4 skala richter menggulung dengan kecepatan 400 mil per jam
tsunami di Valdez Inlet dengan ketinggian 6,7 meter, membunuh lebih dari 120
orang.Sepuluh orang yang menjadi korban di kota Crescent, di utara California,
yang sempat menyaksikan gelombang setinggi 6,3 meter
8. 23 Agustus 1976, sebuah tsunami di barat daya Filipina membunuh 8 ribu
korban jiwa akibat gempa bumi yang terjadi 30 menit setelah adanya gempa.
9. 17 Juli 1998, sebuah gempa berkekuatan 7,1 skala richter menyebabkan
tsunami di Papua Nugini yang membunuh 2200 orang dengan sangat cepat.
10. 26 Desember 2004, gempa kolosal dengan kekuatan 9,1 dan 9,3 skala richter
setinggi 3,5 meter mengguncang Indonesia dan membunuh 230 ribu jiwa, sebagian
besar karena tsunami. Gempa tersebut dinamakan sebagai gempa Sumatera-Andaman
dan tsunami yang terjadi kemudian dikenal sebagai tsunami lautan Hindia.
Gelombang yang terjadi menimpa banyak belahan dunia lain, sejauh hingga Nova Scotia
dan Peru.
12. 2007 – 12
September, Bengkulu, Memakan korban jiwa 3 orang. Ketinggian tsunami 3-4 m.
14. 11 maret 2011, Gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter pada
kedalaman 24,4 kilometer di sebelah pantai timur Honshu, Jepang, pada 11 Maret
2011 pukul 12.46 WIB atau 14.46 waktu setempat, tercatat sebagai gempa bumi
terbesar ketujuh di dunia.
Bab III
Penutup
A.
Kesimpulan
Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempa
bumi, tanah longsor, meteor atau letusan gunung berapi yang terjadi di
laut.Terjadinya Tsunami diakibatkan oleh adanya gangguan yang menyebabkan
perpindahan sejumlah besar air meluap ke daratan, seperti letusan gunung api,
gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami
adalah akibat gempa bumi bawah laut.Dampak Tsunami sebagian besar mengakibatkan
kerusakan parah dan banyak menelan korban jiwa dan harta benda sehingga perlu
adanya upaya untuk menghadapi tsunami baik dalam keadaan waspada,persiapan,saat
terjadi tsunami dan setelah terjadi tsunami.
B.
Saran
Untuk mengantisipasi datangnya tsunami yang sampai
saat ini belum bisa diprediksikan dengan tepat kapan dan dimana akan terjadi
maka dapat dilakukan beberapa langkah seperti selalu waspada dan memantau
dengan aktif informasi tentang bahaya tsunami dari pihak yang berwenang
terhadap adanya potensi tsunami terutama penduduk yang bermukim didekat
pantai.Menentukan tempat-tempat berlindung yang tinggi dan aman jika terjadi
tsunami. Menyediakan persediaan makanan dan air minum untuk keperluan darurat
dan pengungsian. Menyiapkan tas ransel yang berisi (atau dapat diisi)
barang-barang yang sangat dibutuhkan di tempat pengungsian seperti perlengkapan
P3K atau obat-obatan.
Daftar Pustaka