KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Segala puji syukur kami panjatkan atas
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat , taufik serta hidayah-Nya
telah terselesaikan tugas Sejarah Indonesia tentang “Kerajaan Kutai dan
Kerajaan Tarumanegara.
Makalah ini di susun secara sistematis
dan praktis. Saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan data-data
yang saya peroleh dari berbagai sumber .
Dalam menyusun makalah ini tidak menutup
kemungkinan terdapat kesalahan oleh karena itu saya mohon kerendahan hati untuk
memakluminya .
Mudah-mudahan makalah ini dapat membawa
manfaat bagi kita semua ... amin.
Wassalamualaikum wr.wb
Tangerang, 10 Januari 2016
Penulis
Kelompok 5
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar...........................................................................................
Daftar
Isi......................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang............................................................................
3
B.Rumusan
masalah....................................................................... 4
C.Tujuan......................................................................................... 4
BAB
II PEMBAHASAN
1.
Kerajaan Kutai
A.Sumber Sejarah............................................................................
5
B. Letak Kerajaan Kutai..................................................................
5
C. Kehidupan Politik.......................................................................
6
D. Kehidupan Sosial.......................................................................
7
E. Kehidupan Agama.....................................................................
10
F. Kehidupan Ekonomi...................................................................
11
G. Masa Keruntuhan Kerajaan Kutai.............................................
11
2. Kerajaan Tarumanegara
A.Sejarah Berdirinya Kerajaan
Tarumanegara............................... 12
B.Letak dan Wilayah
Kekuasaan....................................................12
C.Kehidupan di Kerajaan Tarumanegara........................................13
D.Raja-Raja di Kerajaan
Tarumanegara.........................................14
E.Prasasti-Prasasti Kerajaan
Tarumengara....................................14
F.Sumber-Sumber
Sejarah..............................................................17
G.Runtuhnya Kerajaan
Tarumanegara............................................18
BAB
III PENUTUP
A.Kesimpulan..................................................................................
19
B.Saran...........................................................................................
19
BAB
IV DAFTAR PUSAKA
A.Daftar
Pusaka..............................................................................
20
BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Setelah
kedatangan agama dan kebudayaan Hindu Buddha, terjadi perkembangan dan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat
Indonesia, terutama dalam bidang politik. Sistem pemerintahan masyarakat
Indonesia mengalami perubahan dari system kesukuan menjadi kerajaan. Pada
system kerajaan, kepala pemerintahan tidak dipegang oleh kepala suku bergelar
datu/datuk atau ratu/raka,tetapi dipegang oleh seorang raja menggunakan
gelar prabu, raja, ataumaharaja. Dalam system ini, raja
dianggap keturunan dewa yang harus disembah oleh bawahan dan rakyatnya. Oleh
karena itu raja memilki hak untuk menyelenggarakan pemerintahan secara mutlak
dan turun – temurun. System pemerintahan kerajaan digunakan di wilayah
Kalimantan, Jawa dan Sumatra. Selanjutnya, di daerah tersebut bermunculan
kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha.
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia
yang terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong) tepatnya
di hulu sungai Mahakam. Kerajaan Kutai diperkirakan muncul pada abad 5 M / ± 400 M.Kerajaan
ini terletak di Muara Kaman, Kalimantan Timur (dekat kota Tenggarong) Nama
Kutai diambil dari nama tempat ditemukannya prasasti yang menggambarkan
kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para ahli karena tidak ada
prasasti yang secara jelas menyebutkan nama kerajaan ini. Keberadaan kerajaan tersebut ditandai dengan
ditemukannya 7 buah prasasti berbentuk yupa. Berdasarkan prasasti yang
ditemukan, diperkirakan Kerajaan Kutai berdiri pada abad ke-4. Yupa tersebut menggunakan
huruf Pallawa dan dengan bahasa Sanskerta. Dalam yupa tersebut dikatakan bahwa
raja pertama bernama Kudungga. Dilihat dari namanya, Kudungga adalah orang
Indonesia asli. Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman yang disebut
sebagai wamsakerta (pembentuk keluarga).
Penggunaan nama ‘warman’ pada nama raja berikutnya merupakan bukti bahwa Kerajaan
Kutai merupakan kerajaan Hindu dan menunjukkan telah masuknya pengaruh ajaran
Hindu dalam kerajaan.
Kerajaan Tarumanegara atau
Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah pulau Jawa bagian
barat pada abad ke-4 hingga abad ke-7 m, yang merupakan salah satu kerajaan
tertua di nusantara yang diketahui. Dalam catatan, kerajaan Tarumanegara adalah
kerajaan hindu beraliran wisnu. Kerajaan Tarumanegara didirikan
oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan
oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Raja Jayasinghawarman berkuasa
dari tahun 358-382 M. Setelah raja mencapai usia lanjut, raja mengundurkan diri
untuk menjalani kehidupan kepanditaan. Sebagai pertapa, Jayasinghawarman
bergelar Rajaresi. Nama dan gelar raja menjadi Maharesi Rajadiraja Guru
Jayasinghawarman.
itu tadi sedikit latar belakang berdirinya Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan
Tarumanegara termasuk kerajaan tertua diindonesia. Lalu bagaimana selengkapnya
berdirinya sejarah Kerajaan Tarumanegara ? Lokasi dan wilayah kekuasaan ?
Bagaimana kehidupan di Kerajaan Tarumanegara ? Siapa sajakah yang pernah
menjadi raja di Tarumanegara ? Bagaimana peninggalan prasasti di Kerajaan
Tarumanegara ? dan Sumber – sumber sejarahnya ? itu semua akan dijelaskan
dimakalah ini .
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana kehidupan ekonomi di
Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?
2. Bagaimana kehidupan sosial di
Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?
3. Bagaimana kehidupan agama di
Kerajaan Kutai dan Tarumanegara?
C.
TUJUAN
1. Memahami kehidupan ekonomi di Kerajaan Kutai dan
Tarumanegara.
2. Memahami kehidupan
sosial di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.
3. Memahami
kehidupan agama di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.
Agar lebih paham dan jelas
tentang Kerajaan Kutai di Indonesai, kita akan membahas
tentang:Sumber sejarah kerajaan kutai, letak Kerajaan Kutai, kehidupan
politik, kehidupan
agama, kehidupan sosial dan budaya, kehidupan ekonomi dan masa
keruntuhan.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Kerajaan Kutai
A. SUMBER
SEJARAH
Sumber yang menyatakan Bahwa di kaltim telah berdiri dan berkembang krajaan yang mendapatkan
pegaruh Hindu adalah beberapa penemuan berupa batu bertulis atau
Prasasti.Tulisan itu ada pada tujuh tiang batu yang disebut Yupa. Yupa ini
berfungsi utuk mengikat hewan qorban.
Korban itu merupakan persembahan rakyat kepada para Dewa yang dipujanya.
Tulisan yang terdapat pada Yupa tersebut menggunakan
huruf pallawa dan berbahasa sansekerta.
Kerajaan Kutai
berakhir saat Raja Kutai yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas
dalam
peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji
Mendapa.Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan
Kerajaan Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa Negarakertagama.
Kutai Kartanegara selanjutnya menjadikerajaan Islam.
Sejak tahun
1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran
berubah menjadi
bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut
Kesultanan
Kutai Kartanegara. Nama Raja
Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan sebagai nama asli orang
Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India.Sementara putranya yang bernama
Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.
B. LETAK
KERAJAAN KUTAI
Kerajaan kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia. Kerajaan ini terletak
ditepi sungai
Mahakam di Muarakaman, Kalimantan Timur, dekat kota Tenggarong. Letak
geografis
Kerajaan Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India.
C.
KEHIDUPAN POLITIK
Dalam kehidupan
politik seperti yang dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar Kutai adalah
Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam yupa juga
dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan dipandang
sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Asmawarman
sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti
dalam agama Hindu. Untuk itu para ahli berpendapat Kudungga masih nama
Indonesia asli dan masih sebagai kepala suku, yang menurunkan raja-raja Kutai. Dalam kehidupan
sosial terjalin hubungan yang harmonis/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum
Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam yupa,bahwaraja Mulawarman memberi
sedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci
bernama Waprakeswara. Istilah Waprakeswara–tempat suci untuk memuja Dewa Siwa di pulau
Jawa disebut Baprakewara.
Sejak muncul dan berkembangnya Pengaruh Hindu di Kaltim, terjadi
perubahan dalam tata pemerintahan, yatu dari sistem pemerintahan kepala suku
menjadi sistem pemerintahan Raja atau
feodal. Raja-raja yang pernah berkuasa pada kerajaan Kutai adalah sebagai
berikut:
1.
Kudungga
Raja ini adalah Founding Father kerajaan Kutai,
ada yang unik pada nama raja
pertama ini, karena nama Kudungga merupakan nama Lokal atau nama yang
belum dipengaruhi oleh budaya
Hindu. Hal ini kemudian melahirkan persepsi para ahli bahwa pada masa kekuasaan
Raja Kudungga, pengaruh Hindubaru masuk
ke Nusantara, kedudukan
Kudungga pada awalnya adalah seorang kepala suku. Dengan masuknya
pengaruh Hindu, ia megubah struktur pemerintahannya menjadi kerajaan dan
mengangkat dirinya mejadi raja, sehingga pergantian raja dilakukan secara turun
temurun.
2.
Aswawarman
Prasasti Yupa menyatakan bahwa Raja aswawarman
merupakan raja yang cakap
dan kuat. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai
diperluas lagi.
Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan upacara Asmawedha. Upacara-upacara
ini pernah
dilakukan di India pada masa pemerintahan raja Samudragupta, ketika ingin
memperluas
wilayahnya. Dalam upacara itu dilaksanakan pelepasan kuda dengan
tujuan untuk menentukan batas
kekuasaan kerajaan Kutai. Dengan kata lain, sampai dimana ditemukan tapak kaki
kuda, maka sampai disitulan
batas kerajaan Kutai. Pelepasan kuda-kuda itu diikuti oleh prajurit kerajaan
Kutai.
3.
Mulawarman
Raja ini adalah Putra dari raja Aswawarman, ia
membawa Kerajaan Kutai ke puncak kejayaan. Pada masa kekuasaannya Kutai
mengalami masa gemilang. Rakyat hidup
tentram dan sejahtera.
Dengan keadaan seperti itulah akhirnya Raja Mulawarman mengadakan upacara korban emas yang amat banyak.
4. Raja Marawijaya Warman
5. Raja Gajayana Warman
6. Raja Tungga Warman
7. Raja Jayanaga Warman
8. Raja Nalasinga Warman
9. Raja Nala Parana Tungga
10. Raja Gadingga Warman Dewa
11. Maharaja Indra Warman Dewa
12. Raja Sangga Warman Dewa
13. Raja Candrawarman
14. Raja Sri Langka Dewa
15. Rraja Guna Parana Dewa
16. Raja Wijaya Warman
17. Raja Sri Aji Dewa
18. Raja Mulia Putera
19. Raja Nala Pandita
20. Raja Indra Paruta Dewa
21. Raja Dharma Setia
D. KEHIDUPAN
SOSIAL DAN BUDAYA
Kehidupan sosial di Kerajaan Kutai merupakan terjemahan
dari prasasti-prasasti yang
ditemukan oleh
para ahli. Diantara terjemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.
Masyarakat di Kerajaan Kutai tertata, tertib dan
teratur.
2.
Masyarakat di Kerajaan Kutai memiliki kemampuan
beradaptasi dengan budaya luar (India), mengikuti pola perubahan zaman dengan
tetap memelihara dan melestarikan budayanya sendiri. Sementara itu dalam
kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini dibuktikan
melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) yang disebut Vratyastoma.
Vratyastoma dilaksanakan sejak pemerintahan Aswawarman karena Kudungga masih
mempertahankan ciri-ciri keIndonesiaannya, sedangkan yang memimpin upacara
tersebut, menurut para ahli, dipastikan adalah para pendeta (Brahmana) dari
India. Tetapi pada masa Mulawarman kemungkinan sekali upacara penghinduan
tersebut dipimpin oleh kaum Brahmana dari orang Indonesia asli. Adanya kaum
Brahmana asli orang Indonesia membuktikan bahwa kemampuan intelektualnya
tinggi, terutama penguasaan terhadap bahasa Sansekerta yang pada dasarnya
bukanlah bahasa rakyat India sehari-hari, melainkan lebih merupakan bahasa
resmi kaum Brahmana untuk masalah keagamaan.
Kehidupan
politik kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha membawa perubahan baru dalam
kehidupan
sosial dan
ekonomi masyarakat Indonesia. Struktur sosial dari masa Kutai hingga
Majapahit
mengalami perkembangan yang ber-evolusi namun progresif. Dunia perekonomian
pun
mengalami perkembangan: dari yang semula sistem barter hingga sistem nilai
tukar uang.
Dari
berbagai peninggalan yang ditemukan diketahui bahwa kehidupan masyarakatnya
Kutai sudah cukup teratur. Walau tidak secara jelas
diungkapkan, diperkirakan masyarakat Kutai sudah terbagi dalam pengkastaan meskipun tidak secara tegas. Dari penggunaan
bahasa Sansekerta dan pemberian hadiah sapi,
disimpulkan bahwa dalam masyarakat Kutai terdapat golongan brahmana, golongan yang sebagaimana juga di India memegang monopoli
penyebaran dan upacara keagamaan.
Di
samping golongan brahmana, terdapat pula kaum ksatria. Golongan ini terdiri
dari keraba dekat raja. Di luar kedua golongan ini, sebagian besar masyarakat
Kutai masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan
asli mereka. Jadi, walaupun Hindu telah menjadi agama resmi kerajaan, namun masih terdapat kebebasan bagi masyarakat untuk
menjalankan kepercayaan aslinya.
Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai, dapat diketahui bahwa pada abad
ke -4 M di daerah Kutai
terdapat suatu masyarakat Indonesiayang telah banyak menerima pengaruh hindu.
Masyarakat tersebut telah dapat
mendirikan suatu kerajaan yang teratur rapi menurut pola pemerintahan di India. Masyarakat Indonesia
menerima unsur-unsur dari luar dan
mengembangkannya sesuai dengan tradisi bangsa Indonesia
Kehidupan budaya masyarakat Kutai sebagai berikut :
Masyarakat Kutai adalah masyarakat yang menjaga akar tradisi budaya nenek
moyangnya.
a.
Masyarakat yang sangat
tanggap terhadap perubahan dan kemajuan kebudayaan.
b.
Menjunjung tingi semangat
keagamaan dalam kehidupan kebudayaannya.
Masyarakat Kutai juga adalah masyarakat yang respon terhadap perubahan
dankemajuan
budaya. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan masyarakat Kutai yangmenerima
dan mengadaptasi budaya luar
(India) ke dalam kehidupan masyarakat.Selain dari itu masyarakat Kutai dikenal
sebagai masyarakat yang menjunjung
tinggispirit keagamaan dalam kehidupan kebudayaanya. Penyebutan Brahmana sebagai pemimpin
spiritual dan ritual keagamaan dalam yupa-prasasti yang mereka tulis menguatkan kesimpulan itu.
Bukti sejarah tentang kerajaan Kutai adalah
ditemukannya tujuh prasasti yang berbentuk yupa (tiang batu) tulisan yupa itu menggunakan huruf
pallawa dan bahasa sansekerta. Informasi yang ada
diperoleh dari Yupa / prasasti dalam upacara pengorbanan yang berasal dari abad
ke-4. Ada tujuh buah yupa yang menjadi sumber utama bagi para ahli dalam
menginterpretasikan sejarah Kerajaan Kutai.
1.
Yupa
Yupa atau
Menhir Yupa adalah tugu batu yang berfungsi sebagai tugu peringatan yang
dibuat oleh para Mulawarman atas kedermawanan raja
Mulawarman. Dalam agama hindu
sapi tidak disembelih seperti kurban yang dilakukan
umat islam. Dari salah satu yupa
tersebut diketahui bahwa raja yang memerintah kerajaan
Kutai saat itu adalah
Mulawarman. Namanya dicatat dalam yupa karena
kedermawanannya menyedekahkan
20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
2.
Ketopong Sultan
Kutai Kartanegara
Ketopong atau Mahkota Sultan Kutai Kartanegara terbuat dari emas dengan berat hampir 2 kg, yang dihiasi dengan batu-batu permata. Bentuk mahkota berunjungan dan bagian muka
berbentumeru bertingkat, dihiasi dengan motif ikal
atau spiral yang dikombinasikan dengan
motif sulur. Hiasan belakang berupa garuda mungkur
berhiaskan ukiran motif bunga, kijang
dan burung.
Ketopong dari emas ini telah mulai digunakan semenjak Sultan Aji Muhammad Sulaiman
bertahta ( 1845 - 1899 ). Diperkirakan mahkota ini
dibuat pada pertengahan abad ke-19 oleh
pandai emas dari kerajaan Kutai sendiri. Seperti yang
dijelaskan oleh Carl Bock dalam bukunya The Head-Hunters of Borneo (1881) bahwa Sultan
Sulaiman memiliki 6 hingga 8 pandai emas yang dipekerjakan khusus untuk membuat barang-barang
emas dan perak bagi Sultan. Detail Ketopong Sultan KutaiDi Museum Mulawarman
Tenggarong hanya dapat dilihat duplikat dari Ketopong ini. Mahkota asli yang beratnya
hampir 2 kg tersebut berada di Museum Nasional Jakarta. Pada saat penobatan Sultan H.A.M.
Salehuddin II sebagai Sultan Kutai Kartanegara pada tanggal 22 September 2001, Pemerintah
Kabupaten Kutai Kartanegara meminjam ketopong ini untuk prosesi penobatan sang
Sultan.
3.Pedang Sultan Kutai
Pedang Kerajaan Kutai ini terbuat dari emas padat. Pada gagang pedang terukir seekor harimau yang sedang siap menerkam, sementara pada ujung sarung pedang dihiasi dengan seekor buaya. Pedang Sultan Kutai ini dapat dilihat di Museum Nasional, Jakarta.
4.Tali Juwita
Tali juwita
adalahsimbul dari sungai Mahakam yang mempunyai 7 buah muara sungai
dan 3 buah anak
sungai (sungai Kelinjau, Belayan dan Kedang Pahu). Tali Juwita Berbentuk
3 utas tali
masing- masing dibuat dari bahan emas, perak dan perunggu. Berhiasakan 3 buah bandul
yang berbentuk gelang, 2 buah bertatahkan permata mata kucing dan barjat putih.
Bandul lainnya berbentuk lampion yang berhiaskan 2 buah bandul kecil. Tali
juwita berasal dari kata Upavita yakni kalung yang diberikan kepada seorang
Raja. Benda ini merupakan perlengkapan upacara peobatan Sultan Kutai Kartanegara.
5. Arca Singa
Noleh
Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang memakan beras lempukut yang baru ditumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan binatang tersebut jatuh, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya sekarang.
Konon, arca Singa Noleh awal mulanya adalah seekor binatang hidup yang sedang memakan beras lempukut yang baru ditumbuk oleh seorang wanita. Wanita tersebut marah dan binatang tersebut jatuh, terus menjadi batu bercampur porselein seperti keadaannya sekarang.
E. KEHIDUPAN
AGAMA
Agama Hindu di Kerajaan Kutai mulai berkembang pada
masa pemerintahan Raja Aswawarman. Agama Hindu yang berkembang adalah Hindu
Syiwa sebagai dewa tertinggi.Tetapi di luar golongan brahmana dan ksatria,
sebagian besar masyarakat Kutai masih menjalankan adat istiadat dan kepercayaan asli mereka. Jadi, walaupun Hindu
telah menjadi agama resmi kerajaan, masih terdapat kebebasan bagi masyarakatnya
untuk menjalankan kepercayaan aslinya.
Dewa Syiwa
diyakini sebagai symbol Brahma yang memiliki kekuatan untuk meleburkan alam
semesta. Perkembangan agama Hindu Syiwa dibuktikan dengan adanya tempat suci yang
bernama Waprakeswara yang
digunakan untuk memuja Dewa Syiwa. Di Kerajaan Kutai, agama Hindu Syiwa menjadi
agama resmi, walaupun hanya berkembang di lingkungan istana. Sedangkan, rakyat
Kutai masih pada kepercayaan kaharingan.
Kaharingan adalah kepercayaan suku Dayak di
Kalimantan, yang menyembah Ranying
Hatalla
Langit sebagai pencipta alam semesta. Kepercayaan ini memiliki
beberapa persamaan
dengan agama Hindu satunya penggunaan sesajen. Oleh
karena itu, pada tanggal 20 April 1980, kaharingan dimasukkan dalam kategori
agama Hindu
F. KEHIDUPAN EKONOMI
Kehidupan ekonomi di
Kerajaan Kutai dapat diketahui dari hal berikut ini :
Letak geografis Kerajaan
Kutai berada pada jalur perdagangan antara Cina dan India. Kerajaan Kutai menjadi tempat yang
menarik untuk disinggahi para pedagang. Hal
tersebut memperlihatkan
bahwa kegiatan perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat Kutai, disamping
pertanian. Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai diperkirakan
ditunjang dari sektor pertanian, baik sawah maupun ladang. Selain itu, melihat
letaknya yang strategis, yaitu di sekitar Sungai Mahakam yang menjadi jalur
perdagangan Cina dan India, membuat Kerajaan Kutai menarik untuk disinggahi
para pedagang. Dengan begitu, bidang perdagangan telah menjadi bagian dari kehidupan
masyarakat Kutai.
Kehidupan ekonomi masyarakat Kutai meningkat dengan
diangkatnya Raja Mulawarman. Beliau adalah raja yang mulia dan dermawan.
Terbukti dengan memberi sedekah kepada rakyatnya berupa 20.000 ekor sapi yang
diletakkan di Waprakeswara. Keterangan tertulis pada prasasti yang mengatakan bahwa Raja Mulawarman pernah memberikan hartanya
berupa minyak dan 20.000 ekor sapi kepada para Brahmana. Diperkirakan bahwa
pertanian, baik sawah maupun ladang, merupakan mata pencarian utama masyarakat Kutai. Melihat letaknya di
sekitar Sungai Mahakam sebagai jalur transportasi
laut, diperkirakan perdagangan masyarakat Kutai berjalan cukup ramai. Bagi
pedagang luar yang ingin berjualan di Kutai, mereka
harus memberikan “hadiah” kepada raja agar
diizinkan berdagang.
Pemberian
“hadiah” ini biasanya berupa barang dagangan yang cukup mahal harganya; dan pemberian ini dianggap sebagai upeti atau pajak kepada
pihak Kerajaan. Melalui hubungan dagang
tersebut, baik melalui jalur transportasi sungai-laut maupan transportasi
darat, berkembanglah hubungan agama dan
kebudayaan dengan wilayah-wilayah sekitar. Banyak pendeta yang diundang datang ke Kutai. Banyak pula orang Kutai
yang berkunjung ke daerah asal para pendeta
tersebut.
G. MASA KERUNTUHAN
Berdasarkan yupa yang ditemukan,Kerajaan Kutai
berakhir saat Raja Kutai yang
Bernama Maharaja Dharma
Setia tewas dalam peperangan di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum
Panji Mendapa. Perlu diingat bahwa Kutai ini (Kutai Martadipura) berbeda dengan Kerajaan
Kutai Kartanegara yang saat itu ibukota di Kutai Lama (Tanjung Kute). Kutai
Kartanegara inilah, di tahun 1365, yang disebutkan dalam sastra Jawa
Negarakertagama. Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi kerajaan Islam. Sejak tahun
1735 kerajaan Kutai Kartanegara yang semula rajanya bergelar Pangeran berubah menjadi
bergelar Sultan (Sultan Aji Muhammad Idris) dan hingga sekarang disebut
Kesultanan Kutai Kartanegara. Nama Raja Kundungga oleh para ahli sejarah ditafsirkan
sebagai nama asli orang Indonesia yang belum terpengaruh dengan nama budaya India. Sementara
putranya yang bernama Asmawarman diduga telah terpengaruh budaya Hindu.
2. Kerajaan Tarumanegara
A. Sejarah berdirinya Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan Terumanegara di bangun oleh raja Jayasinghawarman
ketika memimpin
pelarian
keluarga kerajaan dan berhasil meloloskan diri dari musuh yang terus menerus menyerang
kerajaan Salakanagara. Di pengasingan, tahun 358 M,
Jayasinghawarman mendirikan kerajaan baru di tepi Sungai Citarum, di Kabupaten
Lebak Banten dan diberi nama Tarumanegara. Nama Tarumanegara diambil dari nama
tanaman yang bernama tarum, yaitu tanaman yang dipakai untuk ramuan pewarna
benang tenunan dan pengawet kain yang banyak sekali terdapat di tempat ini.
Tanaman tarum tumbuh di sekitar Sungai Citarum. Selain untuk pengawet kain,
tanaman ini merupakan komoditas ekspor dan merupakan devisa pemasukan terbesar
bagi Kerajaan Tarumanegara.
Raja Jayasinghawarman berkuasa dari tahun 358-382 M. Setelah raja mencapai usia
Raja Jayasinghawarman berkuasa dari tahun 358-382 M. Setelah raja mencapai usia
lanjut, raja
mengundurkan diri untuk menjalani kehidupan kepanditaan. Sebagai pertapa,
Jayasinghawarman bergelar Rajaresi. Nama dan gelar raja menjadi Maharesi
Rajadiraja Guru Jayasinghawarman. Kerajaan Tarumanegara banyak meninggalkan
Prasasti, sayangnya tidak satupun yang memakai angka tahun. Untuk memastikan
kapan Tarumanegara berdiri terpaksa para ahli berusaha mencari sumber lain. Dan
usahanya tidak sia – sia. Setelahnya ke cina untuk mempelajari hubungan cina
dengan Indonesia di masa lampau mereka menemukan naskah – naskah hubungan
kerajaan Indonesia dengan kerajaan Cina menyebutnya Tolomo. Menurut catatan
tersebut, kerajan Tolomo mengirimkan utusan ke cina pada tahun 528 M, 538 M,
665 M, 666M. sehingga dapat di simpulkan Tarumanegara berdiri sejak sekitar
abad ke V dan ke VI.
B.LETAK DAN
WILAYAH KEKUASAAN
Sebelum mengetahui letak
kraton kerajaan Tarumanegara, dari temuan tempat prasasti itu dapat
diperkirakan luas kerajaan Tarumanegara. Prasasti Ciaruon atau prasasti
Ciareteun, ditemukan di daerah Cimpea, Bogor. Kemudian prasasti kebun kopi
yang ditemukan di daerah kampong hilir kecamatan cibung-bulang. Kemudian prasasti
kebun jambu, ditemukan di daerah bukit koleangkak 30 km sebelah
barat bogor. Kemudian prasasti tugu ditemukan di daerah Tugu, clincing,
Jakarta Utara.
Dari temuan letak prasasti
tersebut dapat diketahui daerah yang masuk dalam wilayah kerajaan Tarumanegara.
Wilayah kerajaan Tarumanegara meliputi pesisir Jakarta hingga
pedalaman di kaki gunung Gede (lihat gambar 1.). Selain itu dari prasasti dapat
diketahui fungsi dari suatu daerah. Pada prasasti Tugu yang dikatakan bahwa
pembuatan prasasti itu untuk para brahmana yang telah membuat terusan pada kali
candrabhaga yaitu kali Gomati. Sehingga dapat dikatakan bahwa wilayah
dtemukannya prasasti Tugu merupakan daerah para Brahmana. Para Brahmana
kerajaan Tarumanegara tinggal di daerah pesisir pantai. Dapat dikatakan mereka
datang ke Nusantara dengan para pedagang India.
Dapat di duga pula pada
prasasti kebun jambu yang ditemukan di dekat sungai Cisadane, di bukit
Koleangkak, Banten selatan. Dalam prasasti itu dapat ditafsirka sebagai
prasasti penaklukan suatu wilayah. Dalam prasasti itu dikatakan bahwa raja
Purnawarman merupakan raja yang disegani oleh musuh-musuhnya. Senantiasa
menggempur kota-kota musuhnya.
C. KEHIDUPAN DI KERAJAAN TARUMANEGARA
1. Kehidupan Politik
Berdasarkan tulisan-tulisan yang terdapat pada
prasasti diketahui bahwa raja yang pernah memerintah di tarumanegara hanyalah
raja purnawarman dan raja yang telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya.
Hal ini dibuktikan dari prasasti tugu yang menyatakan raja purnawarman telah
memerintah untuk menggali sebuah kali. Oleh karena itu rakyat hidup makmur
dalam suasana aman dan tenteram.
2. Kehidupan Sosial
2. Kehidupan Sosial
Kehidupan
sosial Kerajaan Tarumanegara sudah teratur rapi, hal ini terlihat dari upaya
raja Purnawarman yang terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan
rakyatnya. Raja Purnawarman juga sangat memperhatikan kedudukan kaum brahmana
yang dianggap penting dalam melaksanakan setiap upacara korban yang
dilaksanakan di kerajaan sebagai tanda penghormatan kepada para
dewa.
3. Kehidupan Ekonomi
Prasasti tugu menyatakan bahwa raja purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Pembangunan ini mempunyai arti ekonomis yang besar bagi masyarakat, Karena dapat dipergunakan sebagai sarana pencegah banjir serta sarana lalu-lintas pelayaran perdagangan antardaerah di kerajaan tarumanegara dengan dunia luar. Juga dengan daerah-daerah di sekitarnya. Akibatnya, kehidupan perekonomian masyarakat sudah berjalan teratur.
3. Kehidupan Ekonomi
Prasasti tugu menyatakan bahwa raja purnawarman memerintahkan rakyatnya untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Pembangunan ini mempunyai arti ekonomis yang besar bagi masyarakat, Karena dapat dipergunakan sebagai sarana pencegah banjir serta sarana lalu-lintas pelayaran perdagangan antardaerah di kerajaan tarumanegara dengan dunia luar. Juga dengan daerah-daerah di sekitarnya. Akibatnya, kehidupan perekonomian masyarakat sudah berjalan teratur.
4. Kehidupan Budaya
Dilihat dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf dari prasasti-prasasti yang ditemukan sebagai bukti kebesaran Kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui bahwa tingkat kebudayaan masyarakat pada saat itu sudah tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya, keberadaan prasasti-prasasti tersebut menunjukkan telah berkembangnya kebudayaan tulis menulis di kerajaan Tarumanegara.
D. RAJA-RAJA DI KERAJAAN TARUMANEGARA
Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669 M, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa. Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.
Raja-raja Tarumanegara:
Dilihat dari teknik dan cara penulisan huruf-huruf dari prasasti-prasasti yang ditemukan sebagai bukti kebesaran Kerajaan Tarumanegara, dapat diketahui bahwa tingkat kebudayaan masyarakat pada saat itu sudah tinggi. Selain sebagai peninggalan budaya, keberadaan prasasti-prasasti tersebut menunjukkan telah berkembangnya kebudayaan tulis menulis di kerajaan Tarumanegara.
D. RAJA-RAJA DI KERAJAAN TARUMANEGARA
Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669 M, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa. Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.
Raja-raja Tarumanegara:
1. Jayasingawarman
358-382 M
2. Dharmayawarman
382-395 M
3. Purnawarman
395-434 M
4. Wisnuwarman
434-455 M
5. Indrawarman
455-515 M
6. Candrawarman
515-535 M
7. Suryawarman
535-561 M
8. Kertawarman
561-628 M
9. Sudhawarman
628-639 M
10. Hariwangsawarman
639-640 M
11. Nagajayawarman
640-666 M
12. Linggawarman
666-669 MC.
E.PRASASTI-PRASASTI
KERAJAAN TARUMANEGARA
1. Prasasti Tugu
Ditemukan di Kampung Batutumbu, Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12km oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
2. Prasasti Kebon Kopi
Prasasti Kebonkopi ditemukan di kampung Muara Hilir kecamatan Cibungbulang Bogor . Yang menarik dari prasasti ini adalah adanya lukisan tapak kaki gajah, yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata, yaitu gajah tunggangan dewa Wisnu
3. Prasasti Cidanghiyang/Lebak
Prasasti Cidanghiyang atau prasasti
Lebak, ditemukan di kampung lebak di tepi sungai Cidanghiang, kecamatan Munjul
kabupaten Pandeglang Banten. Prasasti ini baru ditemukan tahun 1947 dan berisi
2 baris kalimat berbentuk puisi dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isi
prasasti tersebut mengagungkan keberanian raja Purnawarman.
4. Prasasti Jambu
4. Prasasti Jambu
Prasasti Jambu atau prasasti Pasir Koleangkak, ditemukan di bukit Koleangkak di perkebunan jambu, sekitar 30 km sebelah barat Bogor, prasasti ini juga menggunakan bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa serta terdapat gambar telapak kaki yang isinya memuji pemerintahan raja Mulawarman.
5. Prasasti Ciaruteun
Prasasti
Ciaruteun atau prasasti Ciampea ditemukan ditepi sungai Ciarunteun, dekat muara
sungai Cisadane Bogor prasasti tersebut menggunakan huruf Pallawa dan bahasa
Sanskerta yang terdiri dari 4 baris disusun ke dalam bentuk Sloka dengan metrum
Anustubh. Di samping itu terdapat lukisan semacam laba-laba serta sepasang
telapak kaki Raja Purnawarman.
6. Prasasti Pasir Awi
6. Prasasti Pasir Awi
Prasasti Pasir Awi terletak di lereng
selatan bukit Pasir Awi (± 559m dpl) di kawasan hutan perbukitan Cipamingkis
Kabupaten Bogor. Prasasti Pasir Awi berpahatkan gambar dahan dengan ranting dan
dedaunan serta buah-buahan (bukan aksara) juga berpahatkan gambar sepasang
telapak kaki.
7. Prasasti Muara Cianten
7. Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten terletak di tepi
sungai Cisadane dekat Muara Cianten yang dahulu dikenal dengan sebutan prasasti
Pasir Muara (Pasiran Muara) karena memang masuk ke wilayah kampung Pasirmuara.
Prasasti Muara Cianten dipahatkan pada batu besar dan alami dengan ukuran 2.70
x 1.40 x 140 m3. Peninggalan sejarah ini disebut prasasti karena memang ada
goresan tetapi merupakan pahatan gambar sulur-suluran (pilin) atau ikal yang
keluar dari umbi.
F. SUMBER-SUMBER SEJARAH
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui melalui
sumber-sumber yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Sumber dari dalam
negeri berupa tujuh buah prasasti batu yang ditemukan empat di Bogor, satu di
Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa
kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan
beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada
di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah
kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara. Sumber-sumber
dari luar negeri semuanya berasal dari berita Tiongkok.
Berita Fa Hien, tahun 414M
dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti
("Jawadwipa") hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama
Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan "beragama
kotor" (maksudnya animisme). Ye Po Ti
sering dianggap sebutan Fa Hien untuk jawadwipa, tetapi kemungkinan yang lebih
tepat Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung, di daerah aliran
way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti2 peninggalan kerajaan kuno
berupa punden berundak dll yang sekarang terletak di taman purbakala pugung
raharjo, meskipun saat ini pugung raharjo terletak puluhan kilo meter dari
pantai tetapi tdk jauh dari situs tersebut ditemukan batu2 karang yg menunjukan
daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa hien
- Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo ("Taruma") yang terletak di sebelah selatan.
- Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.
Dari berita di atas para ahli
menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya
sama dengan Tarumanegara. Maka berdasarkan sumber-sumber
yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan
tentang Taruma.
Maka
berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui
beberapa aspek kehidupan tentang kerajaan Tarumanegara. Kerajaan Tarumanegara
diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati
tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman.
Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hampir seluruh
Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.
G.
Keruntuhan Kerajaan Tarumanegara
Kerajaan
Tarumanegara diperkirakan runtuh pada sekitar abad ke-7 Masehi. Hal ini
didasarkan pada fakta bahwa setelah abad ke-7, berita mengenai kerajaan ini
tidak pernah terdengar lagi baik dari sumber dalam negeri maupun luar negeri .
Para ahli berpendapat bahwa runtuhnya Kerajaan Tarumanegara kemungkinan besar
disebabkan karena adanya tekanan dari Kerajaan Sriwijaya yang terus melakukan
ekspansi wilayah.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kerajaan
Kutai berada di kalimantan Timur, yaitu di sungai hulu Mahakam.Nama kerajaan
ini disesuaikan dengan nama tempat penemuan prasasti, yaitu didaerah
Kutai. Kalimantan Timur telah berdiri dan berkembang kerajaan yang
mendapatkan pegaruh Hindu adalah beberapa penemuan berupa batu bertulis atau
Prasasti. Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau
Jawa pada abad
ke-4
hingga abad ke-7 M.
Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan
catatan sejarah. Dari apa yang telah
kami sampikan tadi, dapat di simpulkan pengaruh kebudayaan India di Indonesia
tidak hanya menunjuk pada perkembangan ajaran Hindu – Budha, tetapi juga pada
aspek lain missal aspek politik, ekonomi, sosial budaya dan lain sebaginya Dalam
proses akulturasi, Indonesia sangat berperan aktif. Hal ini terlihat dari
peninggalan – peninggalan yang tidak sepenuhnya merupakan hasil jiplakan
kebudayaan India Meskipun corak dan sifat kebudayaan di pengaruhi India. Namun
dalam perkembangannya Indonesia mampu menghasilkan kebudayaan kepribadian
sendiri
B. Saran
B. Saran
Kita sebagai masyarakat Indonesia
harus mencintai budaya budaya yang ada saat ini. Peninggalan-peninggalan yang
begitu besar di Indonesia membuktikan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya
akan budaya. Dengan cara merawat,melestarikan dan tidak merusak budaya yang ada
itu juga merupakan bukti cinta kita terhadapan peninggalan budaya diIndonesia.
Melestarikan dan mengembangkan Budaya Indonesia adalah hal yang sangat penting
bagi kita anak Indonesia, supaya Budaya Indonesia tidak hilang dari Indonesia
ini. Dari keberadaanya kerajaan Kutai &Tarumanegara di
wilayah kita pada masa yang lalu. Maka kita wajib mensyukurinya. Rasa syukur
tersebut dapat di wujudkan dalam sikap dan perilaku dengan hati yang tulus serta
di dorong rasa tanggung jawab yang tinggi untuk melestarikan dan memelihara
budaya nenek moyang kita. Jika kita ikut berpartisipasi dalam menjamin
kelestariannya berarti kita ikut mengangkat derajat dan jati diri bangsa. Oleh
karena itu marilah kita bersama – sama menjaga dan memelihara peninggalan
budaya bangsa yang menjadi kebanggaan kita semua
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
A.Daftar
Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar